Harga Barang yang Diperkirakan Naik Efek Nilai Tukar Rupiah 18.164 per Dolar
Presiden Prabowo Subianto dianggap perlu segera mengambil langkah konkret.
Penulis: Erlan Saputra | Editor: Waode Nurmin
TRIBUN TIMUR, MAKASSAR – Pasar keuangan Indonesia kembali mengalami guncangan hebat pada Senin (8/6/2026).
Kondisi tersebut tercermin dari pelemahan rupiah terhadap Dolar AS yang kian dalam.
Di samping itu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali terpuruk di zona merah.
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menembus level Rp18.164 per dolar AS pada Senin (8/6/2026).
Sementara IHSG merosot ke level 5.435,93 atau turun 2,84 persen pada pukul 12.15 WITA.
Pelemahan tersebut memperpanjang tren negatif yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir.
Rupiah yang sebelumnya masih berada di kisaran Rp16.000 per dolar AS kini hampir menembus level Rp19.000.
Sedangkan IHSG yang sempat berada di level 9.174,47 pada awal tahun terus tergerus hingga hampir menyentuh 5.000.
Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Hasanuddin (Unhas), Prof Dr Muhammad Asdar, menilai kondisi tersebut tidak bisa semata-mata dikaitkan dengan faktor eksternal atau gejolak ekonomi global.
Menurutnya, faktor internal seperti kepastian hukum, iklim investasi, dan kebijakan pemerintah juga ikut memengaruhi pelemahan rupiah serta anjloknya pasar saham.
“Jadi kurs itu banyak faktor yang menentukan. Antara lain kepastian hukum orang yang berinvestasi, kemudian bagaimana produk-produk kita yang dijual,” kata Prof Asdar saat diwawancarai, Senin (8/6/2026).
Presiden Prabowo Subianto dianggap perlu segera mengambil langkah konkret.
Yakni memulihkan kepercayaan investor agar tekanan terhadap pasar keuangan tidak semakin dalam.
Menurut Prof Asdar, pelemahan rupiah dari kisaran Rp16.000 per dolar AS, kemudian menembus Rp17.000 hingga kini berada di atas Rp18.000 per dolar AS akan berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat.
Kenaikan kurs dolar diperkirakan memicu kenaikan harga berbagai barang impor yang masih menjadi kebutuhan nasional.
Mulai dari produk elektronik seperti ponsel dan laptop hingga komoditas pangan seperti kedelai, gandum, susu, gula, bawang putih, serta daging sapi dan kerbau.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/IHSG-ANJLOK-Dosen-Fakultas-Ekonomi-Unhas-Prof-Muhammad-Asdar-1.jpg)