Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Apa Tugas Polisi? 945 Bintara Polri Dilantik di SPN Batua Dibekali Bela Diri Ala Bruce Lee

Double stick atau dikenal nuncakhu atau ruyung adalah senjata tradisional dan alat beladiri asal Okinawa, Jepang.

Tayang:
Penulis: Muslimin Emba | Editor: Sudirman
Tribun-timur.com/Muslimin Emba
PELANTIKAN POLRI - Suasana peragaan pasukan anti huru hara dan penindak kriminalitas oleh Bintara Polri di Sekolah Polisi Negara (SPN) Batua, Jl Urip Sumoharjo, Kecamatan Panakkukang, Kota Makassar, Sulawesi Selatan, Kamis (4/6/2026). Para bintara remaja memperlihatkan kemahirannya bermain double stick. 
Ringkasan Berita:
  • Sebanyak 945 Bintara Remaja Polri resmi dilantik di SPN Batua Makassar, Kamis (4/6/2026). 
  • Usai menjalani pendidikan selama tujuh bulan, mereka menampilkan berbagai kemampuan, mulai dari beladiri Polri, atraksi double stick ala Bruce Lee, pemecahan balok es, simulasi penanganan unjuk rasa hingga aksi tembak reaksi menggunakan senjata laras panjang dan pendek yang memukau para tamu undangan.
  • Demonstrasi menunjukkan keterampilan yang diperoleh selama Program Diktub Bintara Polri Gelombang I.

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Beragam kemampuan Brimob dipamerkan saat pelantikan 945 Bintara Remaja Polri di SPN Batua, Jl Urip Sumoharjo, Kecamatan Panakkukang, Kota Makassar, Sulawesi Selatan, Kamis (4/6/2026).

Mereka menunjukkan kemampuan setelah mengikuti serangkaian proses pendidikan dan pembentukan (Diktub) Bintara Polri Gelombang I Tahun Anggaran 2026, selama tujuh bulan terakhir.

Mulai dari pertunjukan Beladiri Polri, hingga penggunaan senjata laras panjang dan pendek.

Para bintara remaja memperlihatkan kemahirannya bermain double stick.

Double stick atau dikenal nuncakhu atau ruyung adalah senjata tradisional dan alat beladiri asal Okinawa, Jepang.

Baca juga: Jalan Urip Sumoharjo Makassar Sulsel Tidak Ditutup, Lalu Lintas Depan SPN Batua Polda Sulsel Lancar

Alat beladiri itu dipopulerkan oleh aktor film action legendaris keturunan Hong Kong-Amerika, Bruce Lee (1940-1973).

Bak Bruce Lee, para bintara tampak cukup mahir memainkan double stick dengan memecahkan guci dipegang dan ditaruh di atas kepala sasarannya.

Juga dipamerkan aksi bintara remaja mematahkan balok es, menggunakan tangan, sikut dan kepala.

Begitu juga pada simulasi penanganan aksi unjuk rasa ricuh.

Bintara remaja yang tergabung dalam pasukan anti huru hara (PHH) tampak menjalankan tugasnya secara maksimal.

Mulai, dari pengawalan aksi secara persuasif hingga pembubaran paksa dengan watercanon dijalankan dengan serius.

Tidak hanya itu, ada juga tim penindak kriminal yang menggunakan kendaraan taktis.

Tim penindak ini, tampak menggunakan kekuatan Polri dengan senjata gas air mata hingga penangkapan perusuh.

Disimulasikan, dalam penanganan unjuk rasa itu terjadi aksi pembakaran gedung yang direspon cepat dengan menangkap pelaku.

Selain itu, ada juga atraksi simulasi evaluasi SAR Brimob.

10 Bintara yang memeragakan penanganan SAR ini, tampak terjun dari atas wall climbing tower sambil menggendong korban bencana.

Tak kala memukau adalah, aksi tembak reaksi menggunakan senjata Laras panjang dan pendek. 

Tak sedikit tetamu yang hadir bersorak sambil bertepuk tangan memberikan pujian.

Adapun seremoni pelantikan 945 Bintara Polri di SPN Batua uniz diawali penghormatan oleh komandan upacara, pengecekan pasukan, pengambilan sumpah atau janji, hingga pembacaan surat keputusan (SK).

Prosesi sakral pengambilan sumpah atau janji diucapkan para bintara remaja di bawah kitab suci yang dibawakan para rohaniawan.

Ada empat rohaniawan pembawa kitab suci yang dilibatkan, masing-masing-masing; Islam, Katolik, Protestan dan Hindu.

Pengucapan sumpah atau janji itu, dituntun langsung Irjen Pol Djuhandhani Rahardjo Puro dan disaksikan langsung oleh orangtua dan keluarga para bintara remaja.

Djuhandhani menekankan agar keseluruhan pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh para bintara remaja dapat diimplementasikan dalam mengemban tugas dan pengabdian.

"Yang paling utama dan mendasar dalam proses pendidikan Polri adalah menjadikan saudara-saudara Bintara Polri yang berkarakter kebhayangkaraan, berintegritas dan memiliki karakter kepribadian sesuai norma dan etika organisasi, serta sikap prilaku sebagai anggota Polri," ujar Djuhandhani.

"Tanamkan dalam diri saudara-saudara untuk menjadi anggota Polri yang baik dengan menjalankan nilai-nilai Tribrata sebagai pedoman hidup dan Catur Prasetya sebagai pedoman kerja," tambahnya.

Lebih lanjut dijelaskan Djuhandhani, pada Program Diktub Bintara Polri Gelombang I Tahun Anggaran 2026 ini, telah menghasilkan 2.909 personel Polri.

2.909 personel baru ini kata dia, merupakan akumulasi dari pendidikan yang berlangsung di tiga SPN berbeda di Indonesia.

SPN Polda Metro Jaya sebanyak 993 orang, SPN Polda Jawa Timur sebanyak 971 dan SPN Polda Sulsel sebanyak 945 orang.

Dengan hadirnya 2.909 personel Bintara remaja ini, kata Djuhandhani, diharapkan dapat memperkuat dan mendukung pelaksanaan tugas Polri kedepan.

"Saya berharap, dimanapun para bintara remaja ditugaskan kelak, dapat diterima tugas tersebut dengan ikhlas dan penuh rasa tanggungjawab karena tugas Polri sangat mulia," harapnya.

Dipaparkan abituren Akpol 1991 ini, tantangan tugas Polri kedepan akan semakin kompleks.

Itu tidak terlepas dari dinamika global dan nasional yang turut mempengaruhi kehidupan sosial masyarakat dan dampak ekonomi yang ditimbulkan.


"Serta perubahan kultur demokrasi masyarakat yang telah menunjukkan berbagai potensi kerawanan, baik itu perkembangan kejahatan maupun potensi gangguan Kamtibmas," sebutnya.

Olehnya itu, kata Djuhandhani, Polri dituntut untuk selalu siap menghadapi segala potensi yang ada sebagai penanggung jawab keamanan dalam negeri dan pemelihara keamanan dan ketertiban masyarakat.(*)

 

 

 

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved