Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Dapur Andist, Saat Camilan Tradisional Naik Kelas Bersama Rumah BUMN BRI

Ide membuat aneka keripik lokal Makassar lahir dari keinginan menghadirkan camilan yang bukan hanya enak, tetapi juga memiliki identitas lokal

Tayang:
Editor: Muh. Abdiwan
Tribun-timur.com/Muh. Abdiwan
KERIPIK ANDIST - Pasangan Mujhar Idris yang akrab disapa Anjar dan istrinya Andi Shanti atau Andist memperlihatkan kreasi keripik Andist di rumah produksi di Komplek Perumahan Klaster Graha Inayah Blok A No.6, Kelurahan Sudiang Raya, Kecamatan Biring Kanaya, Kota Makassar, Minggu (10/5). Ide membuat aneka keripik ubi ungu, pisang tanduk, ubi jalar, hingga kentang lokal Makassar lahir dari keinginan menghadirkan camilan yang bukan hanya enak, tetapi juga memiliki identitas khas dari hasil bumi lokal Sulawesi Selatan. 

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Di sebuah rumah produksi di Komplek Perumahan Klaster Graha Inayah Blok A No.6, Kelurahan Sudiang Raya, Kecamatan Biringkanaya, Kota Makassar, aroma gurih keripik baru matang kerap memenuhi ruangan sejak pagi hari.

Di dapur sederhana itu, tangan-tangan sibuk memilih ubi ungu terbaik, mengiris pisang tanduk dengan hati-hati, hingga memastikan setiap keripik matang dengan warna dan kerenyahan yang pas.

Dari tempat itulah, Dapur Andist tumbuh perlahan menjadi harapan besar bagi pasangan Mujhar Idris yang akrab disapa Anjar dan istrinya Andi Shanti atau Andist.

Bagi mereka, setiap makanan selalu punya cerita.

Ide membuat aneka keripik ubi ungu, pisang tanduk, ubi jalar, hingga kentang lokal Makassar lahir dari keinginan menghadirkan camilan yang bukan hanya enak, tetapi juga memiliki identitas khas dari hasil bumi lokal Sulawesi Selatan.

Di tengah menjamurnya camilan modern, ubi ungu justru dianggap memiliki potensi besar untuk diolah menjadi produk premium.

“Ubi ungu punya warna alami yang unik, rasa manis khas, dan nilai gizi yang baik,” ujar Anjar.

Nama “Dapur Andist” sendiri lahir dari perpaduan nama Anjar dan Andi Shanti. Kata “Rumah” dan “Dapur” sengaja dipilih untuk menggambarkan kehangatan keluarga sekaligus ruang lahirnya kreativitas rasa.

Mereka ingin produknya terasa dekat dengan masyarakat, namun tetap tumbuh menjadi merek lokal yang modern dan profesional.

Namun perjalanan membangun usaha itu tidak selalu berjalan mulus.

Ada masa ketika produksi terkendala, penjualan menurun, hingga rasa lelah menghadapi persaingan pasar mulai datang silih berganti. Tantangan terbesar bukan hanya menjaga kualitas rasa, tetapi juga belajar memahami pemasaran digital dan kemasan modern yang kini menjadi wajah utama sebuah produk.

Di tengah situasi itu, keluarga menjadi kekuatan terbesar.

Dukungan moral dari orang-orang terdekat membuat mereka tetap bertahan meski usaha belum selalu menghasilkan keuntungan besar.

Kadang semangat justru datang dari komentar sederhana pelanggan.

Ada pelanggan yang mengatakan keripik ubi ungu Dapur Andist mengingatkan mereka pada camilan masa kecil, tetapi dengan rasa yang lebih modern dan premium.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved