TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Dinas Koperasi dan UKM Kota Makassar mulai melakukan pendampingan terhadap pelaku UMKM berbasis RW di Kota Makassar.
Sebanyak 1.312 data UMKM dari 15 kecamatan telah masuk di Dinas Koperasi dan UKM Kota Makassar.
Pendataan tersebut dilakukan pemerintah kelurahan dengan melibatkan RT/RW di masing-masing wilayah.
Kepala Bidang UKM Dinas Koperasi dan UKM Kota Makassar, Andi Tenri Beda mengatakan, data UMKM yang masuk saat ini mulai diidentifikasi dan diverifikasi untuk melihat potensi usaha di setiap wilayah.
“Data yang masuk sekitar 1.312 UMKM dari 15 kecamatan. Itu sudah kami verifikasi dan identifikasi,” ujar Andi Tenri Beda kepada Tribun-Timur.com, Minggu (10/5/2026).
Ia menjelaskan, setelah proses verifikasi, pihaknya langsung menghubungi satu per satu pelaku usaha untuk mengikuti pelatihan dan pendampingan melalui Inkubator UMKM Kota Makassar.
Pendampingan tahap awal tersebut masuk dalam program pra-inkubasi.
Pada tahap itu, para pelaku UMKM diberikan pemahaman mengenai pengembangan usaha, perubahan pola pikir kewirausahaan, hingga pengenalan digitalisasi usaha.
“Mereka dikenalkan bagaimana mindset menjadi wirausaha, pengenalan digitalisasi, legalitas usaha, dan sebagainya,” katanya.
Selain itu, pelaku usaha juga didampingi terkait legalitas produk, kemasan, hingga penguatan identitas usaha masing-masing.
Menurut Andi Tenri Beda, pelatihan dilakukan secara bertahap melalui sistem batch agar proses pendampingan lebih efektif.
“Satu batch itu sekitar 40 peserta karena pelatihannya dilakukan di inkubator supaya lebih efektif,” ujarnya.
Saat ini, Dinas Koperasi dan UKM Kota Makassar telah melaksanakan dua batch pelatihan pra-inkubasi.
Namun dari ribuan data UMKM yang masuk, kata Andi Tenri Beda, tidak semuanya merespons undangan pelatihan.
Karena itu, pihaknya berencana turun langsung ke kelurahan bersama pemerintah kecamatan, kelurahan, hingga RT/RW untuk melakukan sosialisasi dan validasi data lapangan.
“Kami mau turun lagi ke wilayah untuk memastikan datanya valid dan mungkin masih ada pelaku usaha yang belum terdata,” katanya.
Program pendampingan UMKM berbasis RW ini dilakukan melalui Inkubator UMKM Kota Makassar yang berada di Makassar Government Center (MGC) di Jalan Sultan Hasanuddin.
Di tempat itu, pelaku UMKM didampingi oleh tim teknis yang memiliki kompetensi di bidang digitalisasi usaha, legalitas, pengemasan produk, hingga pengembangan pemasaran.
Andi Tenri Beda menjelaskan, dalam Inkubator UMKM terdapat tiga tahapan pembinaan, yakni pra-inkubasi, inkubasi, dan akselerasi.
Pada tahap pra-inkubasi, pelaku usaha difokuskan pada penguatan dasar usaha dan legalitas.
Selanjutnya pada tahap inkubasi, pelaku usaha mulai difasilitasi mendapatkan akses permodalan melalui perbankan, termasuk Kredit Usaha Rakyat (KUR).
“Nanti kalau legalitasnya sudah lengkap, kita fasilitasi mereka untuk akses permodalan melalui perbankan,” ujarnya.
Sementara pada tahap akselerasi, pelaku UMKM yang produknya dinilai siap akan didorong masuk ke pasar yang lebih luas.
Mereka akan difasilitasi untuk mendapatkan akses pemasaran, kemitraan usaha, hingga masuk ke toko retail dan supermarket.
“Kalau sudah tahap akselerasi berarti produknya memang sudah siap dipasarkan lebih luas,” katanya.
Andi Tenri Beda menambahkan, pendampingan UMKM melalui inkubator telah berjalan selama tiga tahun terakhir. Namun selama ini pembinaan dilakukan secara umum dan belum berbasis wilayah.
Menurutnya, pendampingan kali ini berbeda karena menggunakan pendekatan berbasis RW sehingga potensi produk unggulan di setiap wilayah dapat dipetakan lebih spesifik.
“Ini adalah program strategis Pak Wali untuk memetakan dan mengembangkan produk-produk unggulan masing-masing wilayah,” ucapnya.(*)