May Day 2026
Ada Jalan Santai di Peringatan Hari Buruh di Makassar
Kegiatan ini dipusatkan di Lapangan Karebosi, Jl Jend Ahmad Yani, Kecamatan Ujung Pandang, Jumat (1/5/2026).
Dengan begitu, hasil pelatihan dapat langsung dimanfaatkan untuk membuka usaha secara mandiri.
“Semuanya akan kita fasilitasi, baik yang sudah PHK maupun yang belum memiliki pekerjaan, kita siapkan pelatihan,” ujarnya.
Jayadi menargetkan program ini mulai berjalan dalam tahun ini.
Saat ini, Disnakertrans Sulsel sedang mengumpulkan data kebutuhan pelatihan dari serikat pekerja dan serikat buruh.
“Insya Allah tahun ini. Saya sudah minta ke setiap serikat pekerja dan serikat buruh untuk mendata pelatihan apa yang dibutuhkan,” jelasnya.
Di sisi lain, Disnakertrans Sulsel juga terus melakukan pemantauan terhadap kondisi ketenagakerjaan di berbagai perusahaan.
Pemantauan ini dilakukan di tengah dinamika ekonomi global dan ketidakstabilan geopolitik, termasuk di kawasan Timur Tengah, yang dinilai dapat berdampak ke daerah.
“Kami diminta untuk terus memonitor kondisi di perusahaan, kebijakan apa yang diambil, bahkan termasuk PHK,” katanya.
Ia mengakui, kondisi ekonomi global saat ini turut mempengaruhi sektor ketenagakerjaan di daerah.
Hak Perempuan
Ratusan buruh dari berbagai federasi dan serikat pekerja unjuk rasa di bawah Fly Over, perempatan Jalan Urip Sumoharjo–AP Pettarani, Makassar, Jumat (1/5/2026).
Di tengah kerumunan massa, tampak seorang buruh perempuan, Hasma (42), hadir bersama anaknya yang masih berusia empat tahun.
“Hidup buruh,” teriaknya sesekali sambil mengepalkan tangan mengikuti pekikan semangat dari orator.
Kehadiran Hasma dengan membawa anak bukan hal baru.
Ia mengaku sudah membiasakan hal itu sejak sang anak berusia dua bulan.
“Kenapa saya bawa anak ke lokasi aksi karena dari usia dua bulan sudah ikut kegiatan organisasi,” ujar Hasma.
Hasma bergabung dengan Persatuan Massa Buruh Indonesia (PMBI) pada 2002–2004, kemudian aktif di Konfederasi Serikat Nasional sejak 2008.
Terakhir, ia bekerja di perusahaan ekspor gudang di Kawasan KIMA pada 2014–2025 sebelum berhenti untuk fokus mengurus anak.
Ia menyebut, keputusan tersebut diambil karena suaminya juga bekerja di luar daerah, sehingga ia harus lebih banyak berada di rumah.
Dalam momentum May Day ini, Hasma menyuarakan pentingnya fasilitas bagi pekerja perempuan, khususnya ruang menyusui di lingkungan kerja.
Menurutnya, masih banyak perusahaan belum menyediakan fasilitas dasar bagi pekerja perempuan.
“Seperti cuti haid, melahirkan, dan fasilitas menyusui, itu masih banyak perusahaan yang belum menyediakan,” ujarnya.
Ia menambahkan, meski sebagian hak seperti cuti haid dan melahirkan mulai berjalan, fasilitas menyusui masih sangat minim.
“Kalau menyusui itu tidak ada sama sekali,” katanya.
Hasma juga menilai kondisi tersebut membuat sebagian pekerja perempuan memilih keluar dari pekerjaan.
“Kalau mereka berorganisasi seperti saya, kami bahkan harus membawa anak ke lokasi,” katanya.
Ia berharap pemerintah lebih memperhatikan kebutuhan dan perlindungan bagi pekerja perempuan.
“Perempuan di industri itu bisa dibilang 95 persen. Jadi harus lebih diperhatikan,” katanya.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/20260501-Appi-pidato-hari-buruh-3.jpg)