TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Ancaman kekeringan akibat kemarau panjang mulai diantisipasi Pemerintah Kecamatan Tamalanrea, Kota Makassar.
Camat Tamalanrea Andi Patiroi pun menyiapkan sejumlah strategi agar kebutuhan air bersih warga tetap terpenuhi.
Langkah awal yang dilakukan yakni membangun koordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Makassar terkait kesiapan bantuan air bersih bagi wilayah yang berpotensi terdampak.
“Untuk mengantisipasi kekeringan, kami sudah berkoordinasi dengan BPBD Kota Makassar terkait bantuan air bersih di wilayah yang akan terkena dampak kekeringan,” ujar Andi Patiroi kepada Tribun Timur, Selasa (28/4/2026).
Selain itu, pihak kecamatan juga mulai memetakan titik rawan kekeringan sekaligus menyusun pola distribusi air bersih jika sewaktu-waktu dibutuhkan masyarakat.
“Penentuan titik distribusi dan metode distribusi kami lakukan dengan melibatkan lurah, RT, RW, dan personel KSB Kecamatan Tamalanrea,” katanya.
Tak hanya itu, sebanyak 60 anggota Kampung Siaga Bencana (KSB) Tamalanrea telah disiagakan sebagai garda terdepan menghadapi berbagai potensi bencana, termasuk kekeringan.
“Di Tamalanrea sudah ada personel KSB yang akan membantu kalau ada bencana, termasuk bencana kekeringan. Totalnya ada 60 orang,” jelasnya.
Andi Patiroi menambahkan, ada enam kelurahan di Kecamatan Tamalanrea yang masuk wilayah rawan terdampak kekeringan, terutama terkait ketersediaan air bersih.
Enam kelurahan tersebut masing-masing Kelurahan Bira, Tamalanrea, Kapasa, Tamalanrea Indah, Buntusu, dan Tamalanrea Jaya.
Sementara itu, Lurah Bira Andi Zakaria Razak mengungkapkan wilayahnya memiliki tiga titik yang berpotensi mengalami krisis air bersih ketika musim kemarau berlangsung lama.
“Kalau di wilayah Bira itu ada tiga titik, yakni RW 3, RW 4, dan RW 6,” ujarnya.
Ia menjelaskan RW 006 yang berada di kawasan pesisir menjadi wilayah paling rentan karena distribusi air melalui sambungan pipa tidak berjalan normal.
“RW 6 itu daerah pesisir, distribusi PDAM melalui sambungan pipa ke sana itu tidak efektif,” katanya.
Untuk memenuhi kebutuhan warga di RW 006, pasokan air di kawasan tersebut masih rutin dibantu melalui mobil tangki PDAM.
“Kalau sekarang masih rutin disuplai tangki sekitar tiga kali seminggu,” jelasnya.
Selain RW 006, kawasan RW 003 dan RW 004 juga pernah terdampak kekeringan saat pasokan air menurun drastis pada musim kemarau sebelumnya.
Meski demikian, kondisi saat ini dipastikan masih aman dan belum ada laporan kekurangan air bersih dari warga.
“Kalau sekarang alhamdulillah masih normal, belum ada laporan krisis air bersih,” ucap Andi Zakaria.
Tapi ia menambahkan telah menyiagakan Ketua RT/RW untuk terus memantau perkembangan situasi.
"Jika ada kejadian atau warga yang terdampak, kami instruksikan RT/RW unt langsung melapor," ucapnya.