TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Camat Manggala Ahmad mengunjungi Bank Sampah Unit (BSU) Makkio Baji yang berada di Kelurahan Bangkala, Kecamatan Manggala, Senin (27/4/2026).
Kunjungan tersebut dilakukan untuk melihat langsung fasilitas penampungan sampah yang dikelola warga bersama RT/RW.
Selain meninjau lokasi, Ahmad juga berdialog dengan pengelola BSU Makkio Baji terkait sistem pengelolaan yang diterapkan.
Ia menanyakan sejumlah hal, mulai dari jadwal penimbangan sampah hingga skema pembayaran kepada nasabah yang rutin menyetor sampah.
Dalam kunjungan itu, Ahmad didampingi jajaran aparat Kecamatan Manggala.
Turut hadir motivator pengelolaan sampah Abdul Thalib.
Dari pihak BSU, hadir Direktur Desi Saraswati bersama jajaran RT/RW 005 Kelurahan Bangkala.
Hadir pula Lurah Bangkala Muhammad Dapri Kodding.
Saat berdialog dengan pengurus BSU, Ahmad mengaku senang melihat keaktifan BSU Makkio Baji.
Sejak mulai beroperasi pada Juli 2025, bank sampah tersebut telah memiliki 130 nasabah aktif.
Menurut Ahmad, keberadaan BSU Makkio Baji menunjukkan prospek yang baik dalam upaya pengurangan sampah berbasis masyarakat.
Ia mengapresiasi semangat kelompok masyarakat dan RT/RW yang terus menjalankan kegiatan persampahan di wilayah tersebut.
“Alhamdulillah hari ini saya berkunjung ke tempat ini. Saya melihat prospeknya bagus sekali terkait aksi teman-teman kelompok di sini yang membuat kegiatan persampahan ini,” ujarnya.
Ahmad juga berharap pengelolaan BSU terus ditingkatkan agar seluruh kebutuhan operasional dapat dipenuhi dengan baik.
Ia menegaskan pihak kecamatan siap memberikan dukungan dan memfasilitasi kebutuhan yang diperlukan.
“Insyaallah dari pihak kecamatan akan memfasilitasi kebutuhan-kebutuhan di sini terkait BSU itu. Saya baru pertama berkunjung ke sini, dan alhamdulillah kunjungan pertama saya di tempat ini yaitu BSU Makkio Baji,” katanya.
Ia juga menegaskan siap mendukung penyediaan peralatan, baik untuk pengelolaan sampah organik maupun anorganik.
Ketua RW 005 Kelurahan Bangkala, Andi Gunaldi, mengatakan pihaknya terus memaksimalkan pengelolaan sampah terpadu di wilayahnya.
Menurutnya, persoalan sampah dapat ditangani jika seluruh unsur masyarakat terlibat dan konsisten menjalankan pemilahan dari rumah tangga.
Ia menilai sampah juga dapat menjadi sumber pendapatan tambahan bagi warga apabila dikelola dengan baik.
“Agar peningkatan pemilahan sampah menjadi pendapatan warga lebih meningkat sehingga volume sampah ke TPA menurun,” ucapnya.
Sementara itu, Direktur BSU Makkio Baji, Desi Saraswati, menyebut kunjungan Camat Manggala memberi semangat baru bagi pengurus bank sampah.
Ia mengaku banyak mendapat pencerahan serta dukungan dari camat, terutama untuk rencana pengembangan pengelolaan sampah organik.
"Pak camat banyak memberikan kami masukan dan dukungan," ucapnya.
Menurut Desi, sampah organik kini menjadi perhatian utama karena mendominasi sampah rumah tangga.
Ia menjelaskan persoalan utama di TPA Antang saat ini adalah 60 hingga 80 persen sampah organik yang belum dikelola dengan baik.
Sampah organik tersebut dinilai menimbulkan berbagai persoalan lingkungan, mulai dari pencemaran udara akibat bau, pencemaran air dari lindi hasil pembusukan, hingga menghasilkan gas metana yang berdampak pada efek rumah kaca.
Sedangkan untuk sampah anorganik seperti plastik, kertas, dan botol, kata dia, warga selama ini sudah rutin menyetor ke BSU Makkio Baji setiap pekan
"Kami sementara merancang pengelolaan sampah organik tersebut, insyaAllah BSU yang akan kelola itu," ucapnya.
Desi menilai jika setiap kelurahan memiliki satu bank sampah yang aktif dan terus dikembangkan bersama, maka persoalan sampah dapat lebih mudah diatasi.
Dengan begitu, masyarakat akan terdorong menyetor sampah ke bank sampah yang ada di wilayah masing-masing.
Ia juga menilai keberadaan urban farming di setiap kelurahan dapat mendukung pengelolaan sampah terpadu, terutama pemanfaatan hasil olahan sampah organik.
Namun demikian, keberhasilan pengelolaan sampah tetap bergantung pada kesadaran warga untuk memilah sampah sejak dari sumbernya, yakni rumah tangga.
Karena itu, ia menekankan pentingnya peran aktif para ketua RT dalam melakukan sosialisasi dan edukasi rutin kepada warga.
"Pengelolaan sampah terpadu ini bertumpu pada pemilihan di tingkat warga, dan itu butuh kerja bersama membangun kesadaran dan kebiasaan, di samping tentunya kita menyiapkan fasilitas kepada warga," ucapnya.