Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Pembelajaran Jarak Jauh

Pengamat: Pembelajaran Jarak Jauh Berisiko Tekan Ekonomi Lokal Kampus

Pembelajaran jarak jauh (PJJ) yang diterapkan bagi mahasiswa semester lima ke atas dan pascasarjana menuai sorotan dari sisi ekonomi. 

Penulis: Rudi Salam | Editor: Alfian
Tribun-timur.com
DAMPAK PJJ - Pengamat Ekonomi dari Unismuh Makassar, Dr Rendra Anggoro (kiri) dan Pengamat Ekonomi dari Unibos, Dr Lukman Setiawan (kanan). Rendra dan Lukman menilai kebijakan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) berisiko tekan ekonomi lokal kampus. 

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Kebijakan pembelajaran jarak jauh (PJJ) yang diterapkan bagi mahasiswa semester lima ke atas dan pascasarjana menuai sorotan dari sisi ekonomi. 

Kebijakan ini merujuk pada Surat Edaran (SE) Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Nomor 2 Tahun 2026.

Surat edaran itu tentang Penyesuaian Pola Kerja di Lingkungan Kementerian serta Penyesuaian Penyelenggaraan Akademik di Perguruan Tinggi.

Kebijakan ini hadir karena efisiensi energi di tengah dinamika global, khususnya di Timur Tengah yang masih memanas.

Dalam aturan tersebut, pelaksanaan PJJ mempertimbangkan substansi materi kuliah, capaian pembelajaran, serta efektivitas proses pembelajaran. 

Namun, di balik tujuan efisiensi, muncul kekhawatiran terhadap dampaknya pada ekonomi di sekitar kampus.

Baca juga: Ketua BEM di Makassar Ramai-ramai Kritik Kebijakan Pembelajaran Jarak Jauh

Pengamat Ekonomi dari Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar, Dr Rendra Anggoro, menilai kebijakan ini rasional jika dilihat dari perspektif makroekonomi.

“Secara makro, kebijakan PJJ atau hybrid untuk mahasiswa semester lima ke atas memang rasional dalam menekan konsumsi energi,” katanya, kepada Tribun-Timur.com, di Makassar, Rabu (8/4/2026).

Meski demikian, Rendra mengingatkan kebijakan tersebut berpotensi menimbulkan dampak negatif pada ekonomi regional, khususnya di kawasan sekitar kampus.

Menurutnya, kampus selama ini berperan sebagai pusat pertumbuhan ekonomi (growth pole) yang menggerakkan aktivitas ekonomi skala mikro. 

Kehadiran ribuan mahasiswa setiap hari menciptakan permintaan terhadap berbagai sektor, mulai dari makanan, transportasi, hingga jasa lainnya.

“Ketika mahasiswa tidak hadir secara fisik, konsumsi harian akan menurun, multiplier effect melemah, dan UMKM, terutama sektor informal akan mengalami penurunan omzet yang signifikan,” jelas Rendra.

Baca juga: Unhas Segera Terapkan Sistem PJJ, Platform Digital Sudah Siap

Ia juga menyoroti adanya pergeseran pola konsumsi akibat kebijakan PJJ. 

Belanja mahasiswa yang sebelumnya terpusat di kawasan kampus kini berpindah ke daerah asal masing-masing.

“Terjadi pergeseran spasial konsumsi dari sekitar kampus ke daerah asal mahasiswa. Dampaknya, ekonomi lokal di sekitar kampus menjadi pihak yang paling terdampak dalam jangka pendek,” katanya.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved