Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Pakar Energi Unhas Prof Bactiar Nappu Khawatir APBN Jebol Jika Harga BBM Tak Dinaikkan

Konflik antara Amerika Serikat dan Israel vs Iran mengakibatkan adanya lonjakan harga minyak dunia yang juga berimbas ke Indonesia.

Penulis: Faqih Imtiyaaz | Editor: Alfian
Tribun-timur.com
KRISIS ENERGI  - Pakar Energi Universitas Hasanuddin (Unhas) Prof Bactiar Nappu. Krisis energi masih dihadapi terpantau dari antrean panjang BBM yang masih nampak di SPBU, kondisi ini dinilai rawan terhadap distribusi logistik dan pangan 

 

Ringkasan Berita:
  • Konflik antara Amerika Serikat dan Israel vs Iran mengakibatkan adanya lonjakan harga minyak dunia yang juga berimbas ke Indonesia.
  • Dalam sepekan terakhir, terjadi panic buying yang menyebabkan antrean BBM di sejumlah wilayah di Sulawesi Selatan.
  • Pakar Energi Universitas Hasanuddin (Unhas) Prof Bactiar Nappu menyebut persoalan BBM ini bukan sekedar ancaman di sektor energi tapi bisa berimbas ke sektor pangan.

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Ketersediaan Bahan Bakar Minyak (BBM) masih jadi persoalan.

Antrean BBM masih nampak terjadi di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Kota Makassar.

Baik itu kendaraan roda empat, roda dua, truk maupun bus kerap kali harus mengantre dari ruas jalan utama.

Pakar Energi Universitas Hasanuddin (Unhas) Prof Bactiar Nappu menyebut persoalan BBM ini bukan sekedar ancaman di sektor energi.

Lebih luas, bisa mengancam ketahanan pangan dan logistik

"Betul-betul jadi ancaman ketahanan pangan dan logistik nasional. Kita ketahui Bukan hanya transportasi saja. Tapi bahan pokok ini. Kalau solar dan bensin ada kelangkaan membuat truk-truk distribusi bahan pangan ke daerah menjadi terganggu," kata Prof Bactiar Nappu saat dihubungi pada Minggu (5/4/2026).

Baca juga: Peringatan Keras Polres Maros, Penimbun BBM Bisa Dipenjara 6 Tahun

Prof Bachtiar menyebut pemerintah harus segera menemukan solusi ketersediaan BBM di tengah blokade Selat Hormuz.

Blokade Selat Hormuz menjadi titik balik mempertegas kerentanan sektor energi global. 

Jalur sempit yang selama ini menjadi urat nadi distribusi minyak mentah dan gas dunia itu kini tersendat. 

Memicu efek domino terhadap pasokan dan harga energi, termasuk di Indonesia.

"Kalau distribusi energi BBM macet akan bertransformasi menjadi krisis pangan. Mengingat transportasi adalah komponen Utama Harga komoditas di Indonesia. Biar di Sidrap bisa panen padi berapa ton perbulan, tapi tidak ada distribusi ke daerah maka sama saja," kata Prof Bachtiar Nappu.

Ongkos distribusi logistik yang melonjak bisa memicu kenaikan harga bahan pokok.

Sehingga krisis energi akan menjalar sampai ke pangan.

"Tentu pedagang tidak jual rugi. Harus ada margin. Jadi kalau pedagang menjual barang tentu ada marginnya, itu akan naik," jelasnya.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved