TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Camat Biringkanaya, Maharuddin, mengimbau seluruh Ketua RT dan RW agar menjadi garda terdepan dalam penanggulangan banjir.
Maharuddin menjelaskan, dari empat kelurahan di Kecamatan Biringkanaya yang terdampak genangan, dua di antaranya telah membuka posko pengungsian.
“Dari empat kelurahan yang terdampak, untuk pengungsi ada di dua kelurahan. Titik pengungsian di sana ada enam titik,” ujarnya saat diwawancarai Tribun-Timur.Com, Rabu (25/2/2026).
Ia menyebutkan, total warga yang mengungsi hingga saat ini mencapai sekitar 452 jiwa.
Pengungsian telah berlangsung sejak kemarin siang dan berlanjut hingga hari ini.
“Sekitar 452 jiwa kalau tidak salah. Mulai mengungsi sejak kemarin siang sampai tadi malam,” jelasnya.
Terkait langkah penanganan, Maharuddin mengatakan pihaknya telah melakukan koordinasi intensif dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) untuk proses evakuasi warga yang membutuhkan bantuan.
“Kami sudah koordinasi dengan BPBD terkait evakuasi warga yang memang membutuhkan. BPBD standby untuk hal-hal demikian,” katanya.
Selain itu, pihaknya juga berkoordinasi dengan Dinas Sosial untuk pemenuhan kebutuhan dasar para pengungsi, khususnya logistik makanan.
“Dengan Dinas Sosial, kami sudah berbagi data terkait kebutuhan makanan bagi para pengungsi,” tambahnya.
Maharuddin menegaskan, peran RT dan RW sangat strategis sebagai ujung tombak pemerintahan di tingkat paling bawah.
RT dan RW diminta aktif menghimbau warga yang terdampak agar segera mengungsi apabila kondisi air tidak lagi memungkinkan untuk bertahan di rumah.
“RT/RW tetap menghimbau kepada warganya yang terdampak. Jika kondisinya sudah tidak memungkinkan, saya kira RT/RW yang menyampaikan agar warga bergabung di lokasi pengungsian,” tegasnya.
Ia mengakui, terdapat sejumlah warga yang masih enggan meninggalkan rumahnya.
Namun di dua kelurahan yang belum membuka pengungsian, kondisi genangan dinilai masih relatif aman dan belum berdampak signifikan terhadap rumah warga.
“Relatif ketinggian airnya masih bisa ditinggali, sehingga warga masih bertahan di rumah masing-masing,” jelasnya.
Sebagai langkah antisipasi, setiap kelurahan telah mendirikan posko di masing-masing RW.
Mekanisme pelaporan dilakukan secara berjenjang, dimulai dari warga yang melapor ke RT, kemudian diteruskan melalui posko ke pihak kelurahan.
“RT/RW kami upayakan berada dalam satu posko agar bisa melayani warga yang berada di pengungsian maupun yang terdampak,” ujarnya.
Ia menambahkan, relawan di wilayah Tamalanrea telah mendapatkan pembekalan sebelumnya untuk menghadapi kondisi kebencanaan.
RT dan RW juga diminta turut menjaga keamanan rumah warga yang mengungsi.
Pengamanan dilakukan bersama unsur TNI dan Polri, termasuk Babinsa, Bhabinkamtibmas, serta personel dari polsek setempat.
Maharuddin menambahkan, agar warga tetap waspada terhadap kondisi cuaca yang masih berpotensi hujan dengan intensitas tinggi.
“Kalau ada warga yang masih enggan meninggalkan rumahnya, agar memperhatikan akses keluar apabila ketinggian air semakin naik. Jangan sampai proses evakuasi menjadi lebih berat,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan warga untuk mengurangi penggunaan peralatan listrik saat terjadi genangan guna mencegah risiko korsleting dan bahaya lainnya.