Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Ramadan 2026

53 PO Beroperasi di Sulsel, Tarif Disebut Tak Lagi Sehat

Perusahaan otobus di Sulawesi Selatan mengeluhkan penurunan penumpang jelang Ramadan. Persaingan dinilai tidak sehat karena jumlah PO bertambah

Tayang:
Penulis: Siti Aminah | Editor: Sukmawati Ibrahim
Tribun-timur.com
ORGANDA SULSEL – Ketua Organda AKAP-AKDP Sulawesi Selatan, Basri Zain, menyampaikan kondisi penurunan penumpang perusahaan otobus jelang Ramadan 2026.  Persaingan dinilai tidak sehat karena jumlah PO terus bertambah di tengah pasar yang menyusut. 

Ringkasan Berita:
  • Ketua Organda AKAP-AKDP Sulsel, Basri Zain, menyebut penumpang PO masih sepi jelang Ramadan dan baru meningkat dua pekan sebelum Lebaran. 
  • Dampak pasca COVID-19 dan pemangkasan anggaran dinilai memengaruhi arus perjalanan. 
  • Di tengah penurunan penumpang, jumlah PO di Sulsel mencapai 53 perusahaan sehingga memicu persaingan tarif yang disebut tidak sehat.

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR -  Harapan perusahaan otobus (PO) untuk meraup penumpang sejak awal Ramadan belum sepenuhnya terwujud. 

Justru, masa yang dianggap paling menentukan baru terasa dua minggu menjelang Lebaran. 

Sebelum itu, suasana cenderung lengang.

“Biasanya dua minggu sebelum Lebaran itu kelihatan (pertumbuhan penumpang). Sekarang masih sepi, penumpang belum ada,” beber Ketua Organisasi Angkutan Darat (Organda) Antar Kota Antar Provinsi (AKAP) Antar Kota Dalam Provinsi (AKDP) Sulsel, Basri Zain, Rabu (18/2/2026). 

Menurut Basri, situasi ini diperparah oleh kondisi ekonomi yang dinilai jauh berbeda dibanding tahun-tahun sebelumnya. 

Menurutnya, ada dua faktor besar yang memengaruhi penurunan arus penumpang.

Ialah dampak pasca COVID-19 dan kebijakan pemangkasan anggaran pemerintah.

Kedua faktor itu berdampak langsung pada jumlah penumpang angkutan umum, khususnya jasa perusahaan otobus. 

“Ekonomi sekarang tidak sama. Setelah COVID satu, kedua kebijakan pemangkasan anggaran, khususnya yang berkaitan dengan aktivitas pemerintahan. Arus bolak-balik jadi tidak seperti dulu,” katanya.

Akibatnya, banyak PO kini menghadapi kondisi kelebihan armada. 

Jika sebelumnya satu perusahaan bisa mengoperasikan 10 unit kendaraan setiap hari, kini hanya sekitar separuh yang benar-benar berjalan. 

Sisanya terpaksa menganggur di pool.

“Dulu misalnya 10 mobil jalan setiap hari. Sekarang paling lima. Lima lainnya nganggur,” ungkapnya.

Kondisi ini terjadi hampir di seluruh PO. 

Penurunan jumlah penumpang berdampak langsung pada persaingan yang kian ketat.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved