Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

5 Anak Bawah Umur Makassar Bergabung di Grup WA Radikal versi DP3A, Diajak Buat Bom

Lima anak laki-laki asal Makassar diduga terpapar grup digital berbahaya,  berisi ajakan radikal hingga pembuatan bom.

Tayang:
Penulis: Siti Aminah | Editor: Ansar
Tribun-timur.com
PENCEGAHAN KEKERASAN - Kepala DP3A Makassar, Ita Isdiana Anwar saat kegiatan Koordinasi dan Sinkronisasi Pencegahan Kekerasan Anak di Aula Kantor Kecamatan Rappocini, Senin (11/5/2026). Kegiatan advokasi tersebut melibatkan lurah, RT/RW, tokoh agama, shelter warga, PATBM, media, hingga orang tua di Kecamatan Rappocini. (Siti Aminah)  

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Ancaman terhadap anak kini tidak hanya datang dari lingkungan sekitar, tetapi juga dari ruang digital yang sulit diawasi orangtua.

Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kota Makassar menemukan lima anak laki-laki asal Makassar diduga terpapar grup digital berbahaya,  berisi ajakan radikal hingga pembuatan bom.

Temuan itu diungkap Kepala DP3A Makassar, Ita Isdiana Anwar, saat kegiatan Koordinasi dan Sinkronisasi Pencegahan Kekerasan Anak di Aula Kantor Kecamatan Rappocini, Senin (11/5/2026).

“Yang kita tangani sekarang adalah anak-anak kita. Mereka ini masih di bawah umur dan rentan dicuci otaknya lewat gadget dan laptop,” ungkap Ita.

Ia mengatakan, anak-anak tersebut tergabung dalam jaringan grup WhatsApp tertutup yang saat ini tengah didalami bersama tim terkait.

“Ditemukan ada 28 grup WhatsApp, dan lima anak laki-laki asal Kota Makassar berada di dalam jaringan itu,” katanya.

Menurut Ita, anak-anak dalam grup tersebut diduga mendapat doktrin tertentu dari pihak luar.

“Mereka diajak membuat bom dan diberi doktrin tertentu. Ini yang sementara kami lakukan pendampingan dan konseling,” ungkapnya.

DP3A menilai kasus tersebut menjadi alarm serius bagi para orang tua agar tidak lengah mengawasi aktivitas digital anak

Ita menyebut banyak orang tua tidak mengetahui apa saja yang diakses anak melalui telepon genggam maupun laptop pribadi.

“Kadang orang tua mengira anak hanya bermain game atau media sosial biasa, padahal mereka bisa masuk ke ruang-ruang digital yang berbahaya,” ujarnya.

Ia menegaskan pengawasan penggunaan akun media sosial harus dilakukan secara aktif oleh keluarga.

“Jangan meminjamkan akun kepada anak-anak. Kalau akun dipakai anak, mereka bisa kembali terpapar iklan seksual dan konten yang merusak pola pikir,” tegas Ita.

Menurutnya, algoritma media sosial membuat anak sangat mudah terpapar berbagai konten negatif.

“Anak-anak punya rasa ingin tahu yang tinggi, tetapi belum memahami risiko dari apa yang mereka coba,” katanya.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved