Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Sopir dan Warga Siap‑siap, Mahasiswa Luwu Raya Ancaman Tutup Jalan Lagi usai Bertemu Gubernur

Mediasi lanjutan yang coba dibangun pun tidak membuahkan hasil sesuai harapan mahasiswa.

Tayang:
Editor: Ansar
Tribun-timur.com/Muh. Sauki Maulana
PROVINSI LUWU RAYA - Sebuah eskavator tua dipasang melintang di badan jalan di Kelurahan Padang Sappa, Kecamatan Ponrang, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan. Aksi ini bagian dari unjuk rasa menuntut pembentukan Provinsi Luwu Raya dan Kabupaten Luwu Tengah. 

Menurutnya, kewenangan pemerintah provinsi terbatas dalam urusan pemekaran wilayah.

Ia mendorong anggota legislatif dari dapil Luwu Raya untuk memantau perkembangan moratorium di tingkat pusat.

Sekretaris Daerah Sulsel Jufri Rahman menyebut pembentukan DOB Provinsi Luwu Raya tetap memungkinkan meski moratorium berlaku, dengan merujuk pada pengalaman pemekaran wilayah di Tanah Papua.

“Moratorium sampai saat ini memang masih berlaku, tetapi bisa dibuka secara selektif. Buktinya, meski moratorium berlaku, tiga daerah baru di Papua tetap terbentuk. Pemekaran dapat dilakukan sepanjang daerah yang mengusulkan memenuhi seluruh persyaratan,” kata Jufri Rahman.

Ia menambahkan, yang paling penting saat ini adalah kesiapan Luwu Raya memenuhi persyaratan administratif dan teknis untuk pembentukan provinsi baru.

Luwu Raya Macet dan Dampak Penutupan Jalan

Sebelumnya, warga Luwu Raya telah melakukan penutupan jalan di beberapa titik strategis, yang menyebabkan kemacetan hingga 3 kilometer di Jalan Trans Sulawesi, termasuk di Luwu Timur, Luwu Utara, Luwu, dan Palopo.

Demonstran menebang pohon di badan jalan hingga arus lalu lintas lumpuh total.

Kendaraan darurat, seperti ambulans, sempat diizinkan melintas, namun beberapa kejadian menunjukkan dampak luas terhadap masyarakat.

Misalnya, sebuah ambulans pasien gawat terpaksa memutar balik dan mencari jalur alternatif akibat pemblokiran jalan di Luwu Utara, memicu kritik publik karena berpotensi membahayakan nyawa pasien.

Sopir angkutan barang, kendaraan pribadi, transportasi umum, dan warga yang biasa melintas di rute Luwu Raya diimbau memantau informasi terbaru, mengecek rute alternatif, dan menyiapkan kemungkinan penutupan jalan kembali.

Pihak mahasiswa diharapkan berkoordinasi dengan aparat keamanan untuk meminimalkan dampak sosial dan gangguan distribusi logistik.

Dampak penutupan sebelumnya sangat nyata.

Seorang sopir truk asal luar daerah mengaku terjebak kemacetan hingga 20 kilometer akibat blokade di Walenrang Utara.

Warga dan sopir juga mengaku mengalami kesulitan pasokan makanan dan kebutuhan dasar, bahkan beberapa sopir terpaksa menginap di badan jalan hingga situasi membaik.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved