Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Cinta Bersemi Setelah Musim Haji, 87 Pasangan di Luwu Segera Menikah

Data tersebut menunjukkan tradisi menikah setelah hari besar keagamaan masih menjadi pilihan sebagian masyarakat.

Tayang:
Penulis: Muh. Sauki Maulana | Editor: Saldy Irawan
Tribun-timur.com/Muh. Sauki Maulana
NIKAH - Kasi Bimas Kemenag Luwu, Baso Aqil Nas (kiri) bersama pegawai Kemenag Luwu di Kota Belopa, Jumat (5/6/2026). Kementerian Agama (Kemenag) Luwu mencatat sedikitnya 73 pasangan calon pengantin telah mendaftarkan pernikahan mereka hingga awal Juni 2026 atau setelah perayaan Iduladha. 

TRIBUN-TIMUR.COM, LUWU – Momen pasca Hari Raya Iduladha 1447 Hijriah dimanfaatkan puluhan pasangan di Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan, untuk melangsungkan pernikahan.

Kementerian Agama (Kemenag) Luwu mencatat sedikitnya 73 pasangan calon pengantin telah mendaftarkan pernikahan mereka hingga awal Juni 2026 atau setelah perayaan Iduladha.

Data tersebut menunjukkan tradisi menikah setelah hari besar keagamaan masih menjadi pilihan sebagian masyarakat.

Kasi Bimas Islam Kemenag Luwu, Baso Aqil Nas, mengatakan hingga saat ini pihaknya telah mencatat 87 peristiwa nikah yang berlangsung pada Juni 2026.

Jumlah tersebut berpotensi terus bertambah seiring masih berlangsungnya pendaftaran pernikahan di sejumlah Kantor Urusan Agama (KUA).

“Pendaftaran nikah pasca Iduladha sampai awal Juni tercatat 73 pasangan calon pengantin. Sementara peristiwa nikah yang sudah berlangsung hingga saat ini sebanyak 87 pasangan,” jelasnya kepada Tribun-Timur.com, Jumat (5/6/2026) siang.

Meski demikian, ia menilai meningkatnya aktivitas pernikahan setelah Iduladha bukanlah sebuah tradisi yang mengakar kuat di masyarakat.

Menurutnya, banyak pasangan memilih waktu tersebut karena pertimbangan keluarga dan momentum berkumpul setelah hari raya.

“Menikah setelah Lebaran Haji sebenarnya bukan kebiasaan khusus. Hanya saja momennya dianggap tepat oleh sebagian masyarakat,” ujarnya.

Baso menjelaskan, salah satu alasan pasangan memilih menikah setelah Iduladha karena ingin menunggu anggota keluarga yang baru pulang menunaikan ibadah haji.

Kehadiran keluarga yang baru kembali dari Tanah Suci dinilai membawa kebahagiaan tersendiri bagi calon pengantin.

“Biasanya ada yang menunggu orang tua, keluarga, atau kerabat pulang haji. Sekaligus ingin mendapatkan doa dan berkah dari mereka,” akunya.

Selain itu, suasana pasca hari raya juga menjadi waktu yang ideal untuk mengumpulkan keluarga besar yang datang dari berbagai daerah.

Momentum cuti bersama dan libur panjang turut dimanfaatkan untuk menggelar pesta pernikahan.

Data Kemenag Luwu menunjukkan jumlah peristiwa nikah sepanjang 2026 mengalami fluktuasi setiap bulan.

Pada Januari tercatat 184 pasangan menikah, kemudian menurun menjadi 124 pasangan pada Februari dan 94 pasangan pada Maret.

Jumlah tersebut kembali meningkat pada April dengan 226 pasangan menikah, sebelum turun menjadi 153 pasangan pada Mei 2026.

Baso menilai melandainya peristiwa nikah pada Februari dan Maret dikarenakan momen bulan suci Ramadan.

Sebelum menapaki jenjang rumah tangga, para Gen Z terbilang hati-hati.

Pemuda asal Kecamatan Larompong, Edwin Yogi mengaku, letak permasalahan berada pada kesiapan mental dan finansial sebelum membangun bahtera rumah tangga.

"Kalau lihat biaya resepsi sekarang memang berat. Banyak teman-teman pilih tunda dulu sambil kumpul modal," jelas pria berusia 28 tahun itu.

Kata Edwin, kebanyakan Gen Z kini berpikir lebih realistis, termasuk potensi naiknya biaya hidup di masa mendatang.

"Yang saya lihat, orang lebih banyak berpikir depan. Hidup setelah menikah. Karena biaya hidup naik tawwa, jadi menikah bukan keputusan yang bisa buru-buru," tandasnya.

 

Laporan Jurnalis Tribun-Timur.com, Muh Sauki Maulana

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved