Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Hari Kartini 2026

Diskusi AJI Makassar: Jurnalis Perempuan Hadapi Tekanan Berlapis, Perlu Ruang Aman di Redaksi

Hari Kartini, AJI Makassar buka ruang percakapan reflektif tentang tekanan mental jurnalis perempuan.

Tribun-timur.com/AJI MAKASSAR
AJI MAKASSAR - Peserta diskusi publik “Di Balik Deadline: Kondisi Jurnalis Perempuan, Tekanan Mental, dan Ruang Aman di Redaksi”. Diskusi bertepatan dengan Hari Kartini ini sukses mengupas pengalaman, tantangan, serta upaya menciptakan lingkungan kerja yang lebih aman dan suportif bagi jurnalis perempuan di Sekretariat AJI Makassar, Jl Toddopuli 10 Nomor 24 dan Virtual (Zoom Meeting), Selasa (21/4/2025) 18.30 Wita - selesai.  

Menurutnya, perusahaan pers memiliki tanggung jawab menciptakan ruang redaksi yang inklusif dengan kebijakan perlindungan kesehatan mental. 

Olehnya itu, AJI Indonesia mendorong media massa menyediakan konseling, menyusun SOP pencegahan dan penanganan kekerasan seksual, serta mekanisme perlindungan saksi.

AJI Indonesia juga bekerja sama dengan AJI kota dan lembaga layanan psikologis di daerah, serta pernah menggelar pelatihan kesehatan mental bersama HIMPSI dan pelatihan keamanan jurnalis secara holistik.

Grounding dan Self-Care Jadi Kunci Atasi Stres

Psikolog Bidang Klinik dan Forensik Biro Psikologi Daya Potensial Indonesia, Sitti Annisa M Harussi menjelaskan pentingnya memahami kesehatan mental secara menyeluruh. 

Ia mengutip definisi WHO bahwa kesehatan mental adalah keadaan kesejahteraan di mana seseorang mampu mengatasi stres, menyadari kemampuan diri, belajar dan bekerja dengan baik, serta memberi kontribusi pada lingkungan sekitar.

Ada empat pilar kesehatan mental yang menjadi indikator seseorang dikatakan sehat mental, yakni: 

Keterhubungan, memiliki hubungan positif, rasa memiliki, kontribusi dalam kelompok, dan empati.

Keberfungsian, keterampilan berpikir yang baik, berfungsi dalam pendidikan, mencari nafkah, membuat pilihan sehat, serta mempelajari keterampilan baru.

Mengatasi kesusahan (stres),  kemampuan beradaptasi, mencoba hal baru, membuat pilihan kompleks, serta mengelola emosi.

Berkembang,  ruang untuk tumbuh, menemukan tujuan hidup, dan fokus pada kesejahteraan diri serta orang lain.

Icha sapaan akrabnya menekankan, stres adalah kondisi wajar yang dialami setiap manusia. 


“Saya pun stres karena deadline. Stres itu wajar, menjadi tidak wajar ketika berkembang menjadi kondisi yang merugikan atau menghambat fungsi sehari-hari,” ujar Alumni UNM ini. 

Ia menambahkan, perempuan sering menghadapi tekanan berlapis, bukan hanya dari pekerjaan, tetapi juga dari lingkungan sosial, termasuk tuntutan usia dan peran domestik. 

Karena itu, perempuan perlu mencari cara untuk mengatasi stres.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved