Hari Kartini 2026
Diskusi AJI Makassar: Jurnalis Perempuan Hadapi Tekanan Berlapis, Perlu Ruang Aman di Redaksi
Hari Kartini, AJI Makassar buka ruang percakapan reflektif tentang tekanan mental jurnalis perempuan.
Ringkasan Berita:
- AJI Makassar menggelar diskusi publik bertajuk “Di Balik Deadline: Bagaimana Kondisi Jurnalis Perempuan, Tekanan Mental, dan Ruang Aman di Redaksi” bertepatan Hari Kartini.
- Hadir Ketua Bidang Gender AJI Indonesia, Shinta Maharani, dan Psikolog Klinik serta Forensik Biro Psikologi Daya Potensial Indonesia, Sitti Annisa M Harussi.
- Diskusi mengupas pengalaman jurnalis perempuan yang menghadapi tekanan mental berlapis, risiko kekerasan seksual, serta stigma di ruang redaksi yang masih maskulin.
TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - AJI Makassar membuka ruang dialog publik lewat diskusi “Di Balik Deadline: Kondisi Jurnalis Perempuan, Tekanan Mental, dan Ruang Aman di Redaksi”.
Diskusi bertepatan dengan Hari Kartini ini sukses mengupas pengalaman, tantangan, serta upaya menciptakan lingkungan kerja yang lebih aman dan suportif bagi jurnalis perempuan di Sekretariat AJI Makassar, Jl Toddopuli 10 Nomor 24 dan Virtual (Zoom Meeting), Selasa (21/4/2025) 18.30 Wita - selesai
Narasumber diskusi adalah Psikolog Bidang Klinik dan Forensik Biro Psikologi Daya Potensial Indonesia, Sitti Annisa M Harussi, serta Ketua Bidang Gender, Anak, dan Kelompok Marginal AJI Indonesia, Shinta Maharani dipandu moderator Anggota AJI Makassar sekaligus Jurnalis Tribun Timur, Siti Aminah.
Peserta terdiri dari pengurus dan anggota AJI Makassar, jurnalis, serta masyarakat umum.
Shinta Maharani: Ruang Redaksi Harus Inklusif Lindungi Jurnalis Perempuan
Ketua Bidang Gender, Anak dan Kelompok Marginal AJI Indonesia, Shinta Maharani, memaparkan kondisi jurnalis perempuan yang menghadapi tekanan mental berlapis.
Ia mencontohkan kasus seorang jurnalis perempuan korban kekerasan seksual yang mengalami depresi berat hingga nyaris bunuh diri. Jurnalis tersebut tidak mendapat dukungan dan penanganan tepat dari kantornya.
Efeknya, ia mengalami kecemasan, kesedihan, sulit berkonsentrasi, gangguan tidur, kelelahan fisik, hingga menarik diri dari lingkungan sosial karena pengucilan dan bullying.
“Cerita tadi menunjukkan jurnalis perempuan mengalami tekanan mental jauh lebih kuat dan berlapis, dua kali lebih berat dibanding jurnalis laki-laki, di balik target dan deadline yang ketat,” jelas jurnalis Tempo ini.
Hampir semua jurnalis perempuan berisiko mengalami depresi, termasuk korban kekerasan seksual.
Data AJI 2022 menunjukkan 82 persen jurnalis perempuan mengalami kekerasan seksual. Sepanjang 2025, tercatat 91 kasus kekerasan terhadap jurnalis, 11 di antaranya perempuan.
Survei IFJ 2018 mencatat 66 persen jurnalis perempuan mendapat serangan daring berbasis gender berupa pelecehan seksual, penghinaan fisik, delegitimasi pekerjaan, hingga ancaman pemerkosaan.
Selain trauma, perempuan jurnalis harus menghadapi jam kerja panjang, ruang redaksi maskulin, stereotip, diskriminasi, hingga pelecehan dari narasumber.
Shinta Maharani bahkan pernah mengalami pelecehan saat liputan investigasi tambang pasir ilegal.
“Tekanan mental ini patut menjadi perhatian semua pihak yang peduli kebebasan pers,” tegasnya.
| Kartini Masa Kini, Kadis Kominfo Bulukumba Dorong Perempuan Percaya Diri dan Produktif |
|
|---|
| DPRD Sulsel Dorong Perlindungan Anak dan Perempuan Lewat Diskusi Hari Kartini |
|
|---|
| Profil Mirfayani Mirsal, Ketua Panrita Literasi Institute Menyalakan Semangat Kartini di Sinjai |
|
|---|
| Semangat Kartini di Puskesmas Cempae Parepare, Staf dan Nakes Layani Pasien Balutan Baju Adat |
|
|---|
| Bupati Sinjai: Perempuan Tidak Lagi di Pinggiran, Kini Jadi Penggerak! |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/2026-21-april-aji-mks.jpg)