Pilkada
Akademisi Unhas Sebut Pemuda Harus Jadi Gladiator di Pilkada Serentak
Anak muda memegang peranan penting dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak.
Penulis: Faqih Imtiyaaz | Editor: Sukmawati Ibrahim
TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Anak muda memegang peranan penting dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak.
Hal ini kembali ditegaskan oleh Akademisi Universitas Hasanuddin (Unhas), Prof Arifin Hamid, dalam diskusi nasional bertajuk "Independensi dan Integritas Pemuda pada Pilkada Serentak" di Gedung Ipteks, Kampus Unhas, Kamis (24/10/2024) siang.
Pemuda yang dimaksud sesuai dengan Pasal 1 Ayat 1 Undang-Undang (UU) Nomor 40 Tahun 2009, yaitu warga negara Indonesia berusia 16 hingga 30 tahun.
Prof Arifin membagi pemuda saat ini ke dalam tiga tipe.
Pertama, pemuda apatis, yang dinilai tidak peduli terhadap demokrasi dan cenderung acuh tak acuh terhadap Pilkada. Kedua, pemuda tipe spectator, yang bersifat pasif dalam menjaga proses demokrasi dan hanya sesekali memantau dinamika politik.
Tipe ketiga, yang menjadi harapan Prof. Arifin, adalah pemuda gladiator, yaitu mereka berperan aktif dalam menjaga proses demokrasi melalui Pilkada serentak.
"Kalau perlu, Anda jadi panitia, jadi petugas TPS. Berperanlah sebagai gladiator," jelas Prof. Arifin.
Ia juga meminta mahasiswa Unhas untuk menjadi gladiator dalam Pilkada serentak kali ini.
"Generasi muda ada pada tatanan kehidupan masyarakat yang society-centered menuju civil society. Jadi, yang muda dilibatkan," tambahnya.
Kantong suara pemuda di Unhas sangat besar, dengan jumlah pemilih pemuda tercatat mencapai 52 ribu suara.
"Jumlah ini begitu besar, dan diyakini tingkat partisipasinya dalam Pilkada bisa mencapai 90 persen," ungkap Sekretaris Unhas, Prof Sumbangan Baja, dalam diskusi tersebut.
"Jika mereka sadar akan pentingnya Pilkada dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan memilih pemimpin yang baik, saya yakin partisipasi akan meningkat," lanjutnya.
Dalam konteks demografi, Prof Sumbangan Baja menjelaskan perbedaan piramida kependudukan Indonesia dibandingkan dengan negara maju.
"Negara maju memiliki piramida gemuk di bagian atas, sebab jumlah orang tua banyak. Sementara Indonesia justru gemuk di bagian tengah, karena mayoritas diisi oleh pemuda. Ini adalah segmen penting dalam demokrasi," jelasnya.
"Momen seperti ini perlu mengedukasi kesadaran akan pentingnya memilih pemimpin yang baik untuk memimpin kita ke depan," pungkasnya. (*)
| GAM Macetkan Jl AP Pettarani Makassar, Demo Tolak Pilkada Lewat DPRD |
|
|---|
| Dulu Ditolak Keras SBY! Kini Demokrat Sulsel Dukung Pilkada Lewat DPRD |
|
|---|
| Tolak Pilkada Lewat DPRD, Presma UIN Alauddin : Jangan Khianati Kedaulatan Rakyat |
|
|---|
| Akademisi Unibos Makassar Nawir Rahman Petakan Plus Minus Pilkada Lewat DPRD |
|
|---|
| PMII Sulsel Nilai Wacana Pilkada Lewat DPR sebagai Kemunduran Demokrasi |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Akademisi-Universitas-Hasanuddin-Prof-Arifin-Hamid-1222.jpg)