Opini
Kerjasama dan Culture Shock Mahasiswa Indonesia di Australia
Tahun 2004 sekitar 18.000 pelajar Indonesia yang belajar di Australia, dan sebagain besar dari mereka merupakan penerima beasiswa Austaralia
Oleh: Indri Basrum
Mahasiswa Ilmu Sejarah Universitas Hasanuddin
HUBUNGAN Kerjasama antara Indonesia dan Australia, dalam bidang Pendidikan juga terjalain dengan baik.
Terbukti pada masa pemerintahan presiden Megawati Soekarnoputri, setidakya ratusan pelajar melanjutkan pendidikannya ke Australia setiap tahunnya.
Tahun 2004 sekitar 18.000 pelajar Indonesia yang belajar di Australia, dan sebagain besar dari mereka merupakan penerima beasiswa pemerintah Austaralia melalui AusAID.
Selain para pelajar Indonesia yang menempuh Pendidikan di Ausralian, pelajar Australia juga menempuh Pendidikan di Universitas-Universitas yang ada di Indonesia dan organisasi yang menaungi pelajar Australia yang berada di Indonesia yaitu ACICIS (Australian Consortium for In-Country Indonesian Studies) dengan keberadaan ACICIS tersebut pelajar Australia mendapatkan pendidikan yang baik, kondidi lingkungan yang baik dan aman.
Pemerintah Australia telah menunjukkan komitmen mereka untuk mendukung proses studi Indonesia dengan memberikan Mobility Funding untuk para mahasiswa peserta ACICIS.
Tahun2016, pemerintah Australia telah mengalokasikan dana sebesar AUD 1,5 juta untuk mendukung student mobility bagi mahasiswa Australia yang akan belajar di Indonesia periode 2016-2017.
Dukungan finansial ini di bagi kedalam 303 mobilty grants dan 79 intership grants.
Tahun 1989 dari hubungan Kerjasama antara Indonesia dan Australia juga dibentuk Australia-Indonesia Institute, yang dimana berujuan untuk mengimbangai hubungan yang lebih resmi ditingkat pemerintahan.
Menurut Todd Dias, Komjen Australia di Makassar menyatakan bahwa terdapat beberapa kampus asing yang terdapat di Indonesia diantaranya yaitu Universitas Monash yang terdapat di Jakarta, Western Sydney University di Surabaya yang akan segera dibuka.
Pertukaran mahasiswa yang dilakukan merupakan hubungan kerjasama dari kampus ke kampus lain.
Sehingga sangat mendukung mahasiswa dalam melakukan eksplorasi ke berbagai kampus- kampus, dan hampir 20.000 mahasiswa Indonesia yang datang ke Australia tiap tahunnya.
Selama menjalankan pembelajaran baik mahasiswa Australia yang belajar di Indonesia maupun mahasiswa Indonesia yang belajar di Australia, tentunya mereka perlu beradaptasi mengenai negara yang mereka kunjungi.
Dan tidak jarang meraka merasa culture shock baik itu dari segi aktifitas sehari hari ataupun yang lainnya, misalnya orang Australia jika berbicara di WhatsApp langsung to the point tanpa adanya basa-basi terlebih dahulu.
| Demokrasi yang Malnutrisi |
|
|---|
| Putusan MK dan Runtuhnya Praktik Multi-Audit Perkara Korupsi |
|
|---|
| Katto Bokko: Meneropong Masa Depan Petani Muda Indonesia |
|
|---|
| Ketika Laki-laki Memilih Diam: Kerentanan Bunuh Diri dalam Perspektif Emile Durkheim |
|
|---|
| Padepokan Saung Taraju Jumantara dan Rapuhnya Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Indri-Basrum-Mahasiswa-Ilmu-Sejarah-Universitas-Hasanuddin.jpg)