Profesor UNM Hasmyati Dorong Penanganan Stunting Pesisir Berbasis Riset dan Kolaborasi
Hasmyati bersama tim menemukan bahwa faktor sosial ekonomi, budaya, sanitasi lingkungan pengaruhi stunting
TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR — Persoalan stunting di wilayah pesisir Sulawesi Selatan dinilai membutuhkan pendekatan yang lebih komprehensif dan berbasis riset.
Tidak hanya berkaitan dengan persoalan gizi, stunting juga dipengaruhi oleh faktor sosial ekonomi, budaya, sanitasi lingkungan, hingga kondisi fisik rumah masyarakat pesisir.
Hal tersebut menjadi perhatian akademisi Universitas Negeri Makassar (UNM), Hasmyati, melalui penelitian yang ia terbitkan di tahun 2025 mengenai faktor risiko kejadian stunting pada masyarakat pesisir Sulawesi Selatan.
Penelitian tersebut menyoroti pentingnya pendekatan lintas sektor dalam upaya penanganan stunting, khususnya di wilayah pesisir yang selama ini memiliki tantangan sosial dan kesehatan yang kompleks.
Dalam penelitian tersebut, Hasmyati bersama tim menemukan bahwa faktor sosial ekonomi, budaya, sanitasi lingkungan, dan kondisi fisik rumah memiliki hubungan signifikan terhadap kejadian stunting dan penyakit infeksi pada anak-anak pesisir.
“Penanganan stunting tidak bisa dilakukan secara parsial. Persoalan ini berkaitan dengan kualitas lingkungan hidup, pola pengasuhan, tingkat pendidikan keluarga, hingga kondisi ekonomi masyarakat,” kata Hasmyati kepada wartawan Senin (18/5/2026).
Penelitian yang dilakukan dengan pendekatan explanatory research dan analisis Structural Equation Modeling (SEM) itu melibatkan 150 responden anak balita di wilayah pesisir Sulawesi Selatan.
Hasilnya menunjukkan bahwa penyakit infeksi memiliki keterkaitan erat dengan stunting dan dapat memperburuk kondisi pertumbuhan anak apabila terjadi secara kronis.
Menurut Hasmyati, wilayah pesisir memiliki karakteristik sosial yang berbeda dibandingkan daerah perkotaan maupun daratan lainnya.
Keterbatasan akses sanitasi, lingkungan permukiman yang kurang sehat, hingga tingginya angka kemiskinan menjadi faktor yang memengaruhi kualitas kesehatan anak-anak di kawasan tersebut.
Karena itu, ia menilai perguruan tinggi tidak boleh hanya berhenti pada aktivitas akademik di ruang kelas semata, melainkan harus hadir melalui riset yang mampu memberikan solusi nyata bagi masyarakat.
“Perguruan tinggi harus mampu menjadi bagian dari solusi sosial. Riset harus berdampak dan mampu diterjemahkan menjadi kebijakan maupun edukasi masyarakat,” ujarnya.
Gagasan tersebut dinilai sejalan dengan semangat kampus berdampak (impactful university) yang kini menjadi arah pengembangan pendidikan tinggi di Indonesia.
Melalui riset-riset berbasis kebutuhan masyarakat, perguruan tinggi diharapkan dapat memperkuat kontribusinya dalam menyelesaikan persoalan daerah.
Penelitian Hasmyati juga merekomendasikan pentingnya kolaborasi antara pemerintah daerah, tenaga kesehatan, akademisi, dan masyarakat dalam membangun strategi penanganan stunting yang lebih holistik dan berkelanjutan.
| CFD Sidrap Jadi Ajang Edukasi Gizi dan Lomba Makan Telur Anak |
|
|---|
| PSYSport Cup Yearly Volume II Diikuti 20 Tim dari 4 Kampus, Ajang Pererat Silaturahmi |
|
|---|
| JNE Dorong Talenta Kreatif Mahasiswa Lewat Creative Workshop JNE Content Competition di UNM |
|
|---|
| Generasi Muda Harus Melek Finansial, Tim PkM UNM Edukasi Menabung dan Investasi di SMKN 4 Gowa |
|
|---|
| Harga Aspal Naik 50 Persen, Dosen Universitas Negeri Makassar Bandingkan Aspal dan Beton |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/20260518-Hasmyati-unm.jpg)