Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Dekan FEB Unibos: Konflik AS-Iran Picu Efek Domino Ekonomi

Prof Muhlis menyebut, salah satu dampak utama dari konflik Timur Tengah adalah kenaikan harga minyak dunia

Penulis: Rudi Salam | Editor: Ari Maryadi
Tribun-timur.com/Rudi Salam
DAMPAK KONFLIK - Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Bosowa, Prof Muhlis Ruslan (lima dari kiri) dalam acara Seminar Nasional di Balai Sidang 45, Jalan Urip Sumoharjo, Makassar, Jumat (17/4/2026). Prof Muhlis Ruslan menilai konflik Amerika Serikat (AS) dan Iran berpotensi menimbulkan dampak luas dan berantai terhadap perekonomian global maupun Indonesia. 

Ringkasan Berita:
  • Prof Muhlis Ruslan menilai konflik Amerika Serikat (AS) dan Iran berpotensi menimbulkan dampak berantai terhadap perekonomian global maupun Indonesia
  • Konflik tidak hanya terbatas pada satu sektor
  • Melainkan menjalar ke berbagai aspek ekonomi secara global

 

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Bosowa (Unibos), Prof Muhlis Ruslan menilai konflik Amerika Serikat (AS) dan Iran berpotensi menimbulkan dampak berantai terhadap perekonomian global maupun Indonesia.

Sebab menurutnya, konflik biasanya tidak hanya terbatas pada satu sektor, melainkan menjalar ke berbagai aspek ekonomi secara global.

“Dampaknya banyak. Secara global berpengaruh pada harga minyak, pasar keuangan, rantai pasok logistik, inflasi, dan investasi,” kata Prof Muhlis Ruslan, saat memberikan sambutan dalam acara Seminar Nasional di Balai Sidang 45, Jalan Urip Sumoharjo, Makassar, Jumat (17/4/2026).

Seminar nasional yang menghadirkan Dr Muhammad Syarkawi Rauf ini bertajuk ‘Konflik Amerika Serikat-Iran dan Dampaknya Terhadap Stabilitas Ekonomi Global Serta Indonesia’.

Prof Muhlis menyebut, salah satu dampak utama dari konflik Timur Tengah adalah kenaikan harga minyak dunia yang kemudian diikuti penguatan dolar Amerika Serikat.

Kondisi tersebut akan berdampak langsung terhadap kebijakan moneter di dalam negeri.

“Kalau harga minyak naik, dolar naik, Bank Indonesia tentu akan menaikkan suku bunga. Akibatnya cicilan masyarakat juga pasti ikut naik,” katanya.

Selain itu, Prof Muhlis mengingatkan potensi gangguan terhadap tenaga kerja Indonesia (TKI) di luar negeri apabila konflik meningkat menjadi perang terbuka.

Hal ini berisiko menurunkan aliran remitansi ke dalam negeri.

“Kalau terjadi perang, bisa-bisa TKI kembali, tidak ada lagi kiriman dari luar negeri,” jelasnya.

Dampak lain yang tak kalah penting, lanjutnya, adalah tekanan terhadap anggaran pemerintah akibat meningkatnya beban subsidi dan kebutuhan belanja negara dalam situasi krisis.

Guru besar kelahiran Cakke, 31 Agustus 1965 itu juga menyoroti dampak psikologis di tengah masyarakat yang dapat memperburuk situasi ekonomi.

Menurutnya, isu strategis seperti Selat Hormuz sebagai jalur distribusi energi dunia dapat memicu kepanikan publik.

“Efek psikologi ini besar. Masyarakat bisa panik, memborong kebutuhan pokok. Dengan adanya isu Selat Hormuz, itu bisa membuat antrean BBM menjadi sangat panjang,” jelasnya.

Profesor bidang Ilmu Manajemen, Kepakaran Kelembagaan dan Produktivitas Usaha Ekonomi pun menyebut kondisi tersebut perlu diantisipasi secara serius.

Antisipasi baik dari pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan, agar dampak yang ditimbulkan tidak semakin meluas.

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved