Unhas
Unhas Susun Skema Wakaf, Bantu Mahasiswa Tidak Mampu
Wakil Ketua BWI, KH Ahmad Zubaidi memulai inisiasi wakaf dari Auditorium Baharuddin Lopa, Fakultas Hukum, Kampus Unhas.
Penulis: Faqih Imtiyaaz | Editor: Hasriyani Latif
Ringkasan Berita:
TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Badan Wakaf Indonesia (BWI) menggandeng Universitas Hasanuddin (Unhas) menjadi inisiator gerakan wakaf di Indonesia Timur.
Wakil Ketua BWI, KH Ahmad Zubaidi memulai inisiasi wakaf dari Auditorium Baharuddin Lopa, Fakultas Hukum, Kampus Unhas, Tamalanrea, Makassar, Selasa (16/12/2025).
Wakaf adalah proses penyerahan sebagian harta seseorang secara syariah untuk dimanfaatkan dalam kepentingan umum.
Harta tersebut bisa berupa tanah, bangunan hingga uang.
Kedatangan KH Ahmad Zubaidi disambut Rektor Unhas, Prof Jamaluddin Jompa.
Keduanya duduk berdampingan di barisan terdepan auditorium.
KH Ahmad Zubaidi mengenakan batik cokelat, sedangkan Prof Jamaluddin Jompa batik merah.
Keduanya meneken kesepakatan kerja sama membangun ekosistem wakaf.
Menurut KH Ahmad Zubaidi, kampus memiliki potensi besar menggerakkan wakaf.
Dengan mahasiswa yang banyak serta sivitas akademika maka kampus memiliki potensi dalam pengelolaan dana wakaf.
"Itu sudah terbukti beberapa kampus-kampus besar kita PTNBH ya, sudah menitipkan dana abadi mereka ke BWI. Kemudian manfaat dari BWI dikembalikan kepada kampus masing-masing," katanya.
Dari dana wakaf ini, persoalan pendidikan bisa teratasi.
Baca juga: Di Unhas, Mahfud MD Sebut Polri Butuh Pimpinan Tak Berpolitik
Di tengah biaya pendidikan yang semakin meningkat, mahasiswa banyak terjerat kesulitan pembayaran biaya pendidikan.
Melalui pengelolaan wakaf, maka kampus bisa membantu mahasiswa dengan memberikan program khusus dari dana tersebut.
"Kalau wakaf ini berhasil, maka bisa membantu mereka yang tidak mampu, sehingga kita bisa melakukan sebuah program kesetaraan dalam pendidikan. Mereka-mereka yang tidak mampu bisa kuliah dengan minimal, kalau dibantu dengan dana wakaf, maka mungkin bisa gratis dan seterusnya," kata Ahmad Zubaidi.
Melalui wakaf tersebut, manfaat kembali dirasakan kampus dan mahasiswanya.
Sehingga BWI mengajak Unhas mulai mengelola wakaf.
Prof Jamaluddin Jompa menyambut baik rencana tersebut.
Menurutnya, wakaf merupakan kekuatan ekonomi keumatan yang bisa menggerakkan berbagai sektor.
Tak hanya ekonomi, namun dibidang sosial pendidikan.
"Di pikiran Unhas kemarin, kita ingin mengkombinasi antara dana abadi dengan wakaf sebagai suatu gerakan untuk membantu masyarakat, terutama calon-calon mahasiswa Unhas yang secara ekonomi tidak mampu, tapi punya semangat yang besar, maka kita berikan seluas-luasnya," kata Prof JJ.
Pemerintah memiliki berbagai program bantuan mahasiswa.
Namun diluar kuota itu, masih banyak mahasiswa belum tersentuh.
Unhas ssiap menggerakkan wakaf sebagai formula baru memberikan bantuan kepada mahasiswa.
Skemanya sedang disusun agar bisa segera diluncurkan.
"Kita lagi meramu hari ini, sebenarnya sudah beberapa bulan yang lalu kita sudah membuat komunikasi dan juga membuat sistemnya, dan mudah-mudahan sudah bisa dilaunching saat wisuda," kata Prof JJ. Gerakan wakaf Unhas dibuka kepada masyarakat umum yang ingin berpartisipasi.(*)
Laporan Wartawan Tribun-Timur.com, Faqih Imtiyaaz
| Prof Nurpudji Astuti Daud Terima MURI atas Pengembangan Pendidikan Dokter Gizi Klinik |
|
|---|
| Inilah Empat Profesor Baru Unhas, dari Bioteknologi hingga Kedokteran Gigi Modern |
|
|---|
| Gigi Estetik Modern Antar Nurhayati Natsir Raih Guru Besar di Unhas |
|
|---|
| Alasan Prof Jamaluddin Jompa Unhas Tak Naikkan UKT Mahasiswa 2026 |
|
|---|
| Inilah Nomor Urut Calon Dekan Fisip Unhas, Prof Phil Sukri Bersaing 3 Guru Besar |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/20251216-Unhas-dan-BWI-kerja-sama-wakaf.jpg)