Opini
A’bulosibatang, Ikhlas, dan Bahagia di Usia 163 Jeneponto
Ia bukan sekadar slogan, melainkan pesan moral yang kuat di tengah perubahan sosial yang kian cepat.
Jika kondisi ini dibiarkan, semangat persatuan bisa semakin melemah.
Karena itu, peringatan hari jadi ini harus menjadi pengingat bersama.
Persatuan tidak boleh berhenti pada simbol, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan nyata.
Musyawarah yang mengedepankan kebersamaan, sikap saling menghargai, serta kesediaan untuk bekerja sama menjadi kunci dalam menjaga nilai A’bulosibatang tetap hidup.
Pemerintah daerah memiliki peran penting dalam hal ini.
Namun, pembangunan tidak bisa hanya bertumpu pada kebijakan dari atas.
Keterlibatan masyarakat menjadi faktor penentu.
Ketika masyarakat merasa dilibatkan, maka rasa memiliki terhadap daerah akan tumbuh dengan sendirinya.
Selain persatuan, nilai “ikhlas” menjadi dimensi penting dalam tema peringatan tahun ini.
Ikhlas bukan hanya konsep religius, tetapi juga prinsip etika dalam kehidupan sosial.
Ia menuntun seseorang untuk bekerja dengan tulus, tanpa pamrih, dan penuh tanggung jawab.
Dalam konteks pelayanan publik, keikhlasan menjadi fondasi kepercayaan.
Masyarakat tentu berharap pelayanan yang jujur, adil, dan profesional.
Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa masih ada praktik yang jauh dari nilai tersebut.
Orientasi pada kepentingan pribadi dan lemahnya etika pelayanan menjadi tantangan yang harus dihadapi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/2025-01-02-Dr-Sampara-Halik-SPd-MAg.jpg)