Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Citizen Reporter

Perkuat Farmakovigilans, BPOM Makassar Dorong Peran Strategis Tenaga Kesehatan

Sejarah farmakovigilans tidak terlepas dari tragedi Thalidomide pada tahun 1950-an hingga 1960-an yang menyebabkan kecacatan janin berupa phocomelia

Penulis: CitizenReporter | Editor: Sudirman
Tribun-timur.com/citizen reporter
CITIZEN REPORTER -BPOM Makassar menggelar Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) Farmakovigilans secara hybrid di Aula Bajiminasa BBPOM Makassar, Selasa (31/3/2026). Kegiatan diikuti 60 peserta tenaga kesehatan dari sarana pelayanan kesehatan. 

Citizen Reporter: Irmah Azis

PFM Ahli Muda BBPOM di Makassar

TRIBUN-TIMUR.COM - Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Makassar menggelar Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) Farmakovigilans secara hybrid di Aula Bajiminasa BBPOM Makassar, Selasa (31/3/2026).

Tema “Peran Strategis Tenaga Kesehatan Dalam Pelaporan Farmakovigilans Untuk Perlindungan Pasien”.

Kegiatan diikuti 60 peserta tenaga kesehatan dari sarana pelayanan kesehatan.

Meliputi rumah sakit, puskesmas, dan klinik di wilayah pengawasan BBPOM di Makassar.

Turut hadir Ketua Hisfarsi dan Ketua Hisfarkesmas sebagai bentuk dukungan kolaborasi lintas organisasi profesi.

Kepala BBPOM di Makassar, Yosef Dwi Irwan, menyampaikan Farmakovigilans merupakan kegiatan yang berkaitan dengan deteksi, penilaian, pemahaman, dan pencegahan efek samping atau masalah lain yang berkaitan dengan penggunaan obat.

Tujuan utamanya adalah untuk memastikan keamanan dan efektivitas obat setelah dipasarkan. 

Sejarah farmakovigilans tidak terlepas dari tragedi Thalidomide pada tahun 1950-an hingga 1960-an yang menyebabkan kecacatan janin berupa phocomelia akibat penggunaan obat tersebut.

Kejadian ini menjadi pelajaran penting bahwa selalu ada risiko yang tidak terdeteksi pada saat obat disetujui untuk dipasarkan.

“Peran tenaga kesehatan sebagai ujung tombak pelayanan sangat penting dalam mendukung sistem farmakovigilans guna mewujudkan keselamatan pasien," ujarnya.

Saat ini, tingkat pelaporan KTD/ESO di fasilitas pelayanan kesehatan di Sulawesi Selatan masih rendah, yaitu sekitar 38 sarana atau 5,12 persen dari total 737 sarana yang ada.

“Diharapkan kegiatan ini dapat meningkatkan pemahaman, kesadaran, serta peran aktif tenaga kesehatan dalam pelaporan farmakovigilans. Lima menit waktu yang digunakan untuk melaporkan dapat menyelamatkan ribuan nyawa” lanjutnya

Ia berharap seluruh tenaga kesehatan dapat menjadi key player dalam keberhasilan program farmakovigilans dengan aktif melaporkan setiap kejadian efek samping obat dalam praktik sehari-hari.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved