Citizen Reporter
Merawat Pasar Lokal dan Ruang Dialog di Makassar
Namun terkadang kearifan hidup di dalam pasar ini tidak sepenuhnya terhubung dengan saluran komunikasi pemangku kebijakan.
Citizen Reporter: Zainal Siko
Active Society Institute (AcSI)
TRIBUN-TIMUR.COM - Jika kita mengamati ritme kehidupan kota secara saksama, kita akan menemukan bahwa pasar lokal pada hakikatnya adalah cerminan rumah.
Pasar domestik ibarat hunian besar bagi penghuni nan sangat beragam. Di dalam ruang tersebut, masyarakat tidak sekedar diikat kesepakatan harga, tetapi oleh interaksi sosial saling menghidupi, menghargai dan menghormati.
Denyut nadi pasar lokal di Kota Makassar, mengalir falsafah luhur leluhur kita. Ada nafas sipakatau (saling memanusiakan), sipakainga' (saling mengingatkan), sipakalabbiri'(saling memuliakan), dan sitallassi (saling menghidupi).
Nilai-nilai ini diikat erat semangat siri' na pacce----kesadaran akan harga diri dan empati mendalam. Pasar adalah di mana kualitas kemanusiaan tersebut dipraktikkan dengan nyata setiap hari.
Namun terkadang kearifan hidup di dalam pasar ini tidak sepenuhnya terhubung dengan saluran komunikasi pemangku kebijakan.
Ketika peraturan dibuat dari informasi nang mungkin belum searah, hasil di lapangan seringkali terasa kaku.
Pendekatan penataan kota mestinya mengayomi, terkadang berujung pada penertiban dan atau relokasi, sehingga memicu duka lara.
Padahal, jika ruang komunikasi dibuka lebih lebar, kebijakan itu dapat dipastikan berupa kebijaksanaan dengan mengedepankan solusi. Tidak perlu ada merasa paling berkuasa, dan menilai terpinggirkan.
Langkah pertama untuk membenahi tata kelola pasar kita ialah memperbaiki cara kita menyebutnya.
Secara historis dan sosiologis, sudah saatnya kita mempertimbangkan kembali penggunaan label "Pedagang Kaki Lima" populer dituturkan PKL. Mengapa terus menginjeksi identitas tersebut ke dalam alam bawah sadar kita?
Istilah PKL adalah warisan dari konsep Street Food----era kolonial masa lalu. Maknanya sering bergeser, seolah-olah bermasalah secara tata ruang.
Padahal, para pedagang pasar merupakan entitas pengusaha mandiri sedang merintis jalan kesejahteraannya. Memberikan sebutan lebih bermartabat pada langkah awal untuk menghargai kontribusi mereka terhadap ekonomi perkotaan.
Begitu pula julukan "Pasar Tradisional." Kata tradisional memiliki akar kata tradisi, seringkali diasosiasikan dengan hal tertinggal di masa lalu.
| Wisata Pantai Bukan Sekadar Menjual Pemandangan, Tetapi Juga Menjamin Keselamatan Pengunjung |
|
|---|
| Pengurus Ansor Sulsel Jajaki Kerja Sama Strategis IAIN Parepare |
|
|---|
| Tujuh Santri Ponpes Al Haris Raih Penghargaan pada Khataman Al-Quran 30 Juz |
|
|---|
| Tim Pengabdian UNM Bekali Pengurus Pesantren di Bulukumba dengan Standar Akuntansi Keuangan Modern |
|
|---|
| Milad ke-27 HMP BDP FIKP Unhas Jadi Momentum Perkuat Solidaritas Mahasiswa |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/2026-06-09-Zainal-Siko.jpg)