dr Dea dan dr Mulan Melukis Pelangi di Tanah Pengabdian Buton Tengah
dr. Dea Ambarwati Kusuma mengabdi di Puskesmas Wadiabero, sementara di Puskesmas Sangia Wanbulu, dr. Mulafarsyah menjalankan tugas.
Di belakang mereka, anak-anak lain juga sedang berjalan di lintasan masing-masing: Ria Atmaranti Kusuma di Fakultas Psikologi UNM, Safwan Ariyadi Kusuma di UIN Alauddin yang segera menyelesaikan studinya, dan Farhan Alfarisi Kusuma sebagai santri di Ponpes DDI Mangkoso.
Mereka adalah mozaik harapan yang disusun perlahan, dengan kesabaran yang panjang.
Kenangan paling menggetarkan adalah saat Dea dan Mulan mengucapkan sumpah profesi dokter di Auditorium Prof. Dr. Achmad Amiruddin, Universitas Hasanuddin, pada 1 November 2022. Sumpah itu bukan sekadar formalitas. Ia adalah janji yang kini hidup di pelosok-pelosok negeri, di tempat-tempat yang jarang disorot kamera.
Di titik ini, saya ingin menegaskan satu hal sederhana, yaitu tidak ada alasan bagi orang tua untuk menyerah pada keadaan.
Keterbatasan ekonomi tidak boleh menjadi dalih untuk mematikan masa depan anak-anak. Justru di situlah pendidikan menemukan kesannya yang paling dalam.
Teori ekonomi menyebutnya knowledge-driven economy. Namun bagi saya, ia lebih dari sekadar teori.
Ia adalah pengalaman hidup. Pengetahuan bukan hanya jalan menuju kesejahteraan, tetapi juga jalan menuju kehormatan.
Apa yang pernah dikatakan Imam Syafii terasa begitu dekat. Siapa yang menginginkan dunia, tuntutlah ilmu; siapa yang menginginkan akhirat, tuntutlah ilmu.
Kalimat itu bukan sekadar kutipan. Ia adalah bahan bakar yang menjaga nyala harapan tetap hidup.
Dalam setiap keterbatasan, saya selalu berpesan kepada anak-anak, bayar keadaan dengan prestasi. Tebus kekurangan dengan kerja keras. Dan di atas semuanya, gantungkan harapan pada doa.
Saya sadar, sebagai ayah, belum mampu memberikan segalanya. Namun, anak-anak itu memilih memahami, bukan menuntut. Mereka menerima, bukan menyalahkan.
Dan dari penerimaan itulah lahir kekuatan yang tidak terlihat, tetapi nyata.
Dalam sebuah tulisan, dr. Dea pernah menuliskan rasa syukurnya, tentang keluarga sederhana yang dipenuhi cinta, tentang orang tua yang menjadikan pendidikan sebagai prioritas, meski dalam kekurangan.
Kata-kata itu sederhana, tetapi mengandung kedalaman yang sulit diukur.
Bagi saya, anak-anak adalah emas. Bukan emas yang diam, melainkan emas yang harus ditempa. Disepuh dengan kerja keras, diasah dengan ilmu, dan diterangi dengan nilai-nilai keimanan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/20260319_pengabdian-dua-dokter_dr-Dea-dan-mulan-mengabdi-di-buton.jpg)