dr Dea dan dr Mulan Melukis Pelangi di Tanah Pengabdian Buton Tengah
dr. Dea Ambarwati Kusuma mengabdi di Puskesmas Wadiabero, sementara di Puskesmas Sangia Wanbulu, dr. Mulafarsyah menjalankan tugas.
Tokoh Literasi Nasional dan Penulis
TRIBUN-TIMUR.COM- Saya memilih merayakan Idulfitri 1447 Hijriah bukan di ruang-ruang nyaman, melainkan di sebuah puskesmas di ujung peta: Wadiabero, Kabupaten Buton Tengah, Sulawesi Tenggara.
Di tempat ini, takbir tidak selalu menggema keras.
Ia kerap kalah oleh suara batuk pasien, langkah tergesa tenaga medis, dan napas panjang orang-orang yang menggantungkan harapan pada kesembuhan.
Dan, perjalanan ini bukan sekadar pulang.
Ia adalah ziarah batin seorang ayah. Selain menjenguk cucu tersayang, Dzakira Thalita Delafarsyah (6 tahun), saya juga merayakan hari kemenangan bersama dua anak tercinta: dr. Dea dan dr. Mulan—dua nama yang kini lebih akrab dengan stetoskop daripada pangkuan keluarga.
Didampingi istri tercinta, Ani Kaimuddin Mahmud, serta si bungsu Farhan Alfarisi Kusuma, saya menyaksikan dari dekat bagaimana suka dan duka menjadi dokter di daerah terpencil menjelma menjadi cerita harian yang tidak pernah ditulis dalam buku teks kedokteran.
Di Puskesmas Wadiabero, dr. Dea Ambarwati Kusuma mengabdi. Sementara di Puskesmas Sangia Wanbulu, dr. Mulafarsyah menjalankan tugas yang sama: merawat, menjaga, dan menjadi harapan bagi masyarakat.
Di ruang-ruang sederhana itu, pelayanan kesehatan bukan sekadar profesi. Ia adalah sumpah yang hidup.
Sebagai ayah, saya bersujud dalam syukur. Tidak banyak yang dapat diberikan selain doa, kerja keras, dan keyakinan.
Dari usaha kecil menjual buku kelontongan hingga menulis tanpa kepastian, perjalanan panjang itu kini menjelma menjadi dua sosok dokter yang berdiri di garis depan melayani masyarakat.
Universitas Hasanuddin menjadi saksi bagaimana mimpi-mimpi itu dirajut. Dari kampus itulah, anak-anak saya belajar menakar langit, memeluk ilmu, melukis pelangi dan menembus batas-batas keterbatasan. Mereka bukan lahir dari kemewahan. Mereka tumbuh dari kesederhanaan yang keras kepala.
Saya percaya, kemiskinan bukan alasan untuk menyerah. Ia adalah batu pijakan. Sering kali tajam, penuh onak dan duri, tetapi justru membuat langkah lebih hati-hati dan kuat.
Dokter Dea, alumnus Fakultas Kedokteran Unhas dan SMA 17 Makassar, telah mengabdi selama tiga tahun di Sulawesi Tenggara. Ia memilih jalan sepi, jauh dari gemerlap kota. Sementara dr. Mulafarsyah mengikuti jejak yang sama, menguatkan komitmen sebagai tenaga medis di daerah yang membutuhkan.
| Bachtiar Adnan Kusuma Dorong Alumni DDI Bangun Ruang Baca di Mangkoso |
|
|---|
| Resensi Buku: Menulis Sehelai Sutra dari Makkah Ashar Tamanggong |
|
|---|
| Membedah Proses Kreatif Menulis KH Masrur Makmur |
|
|---|
| Pelangi di Negeri Santri |
|
|---|
| Kerinduan Ayah Duta Baca Sulsel 2018-2022 pada Anaknya Terjawab di Momen Hari Santri Nasional 2025 |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/20260319_pengabdian-dua-dokter_dr-Dea-dan-mulan-mengabdi-di-buton.jpg)