Penghasilan 300 KK Hilang Setelah Pelabuhan Penyebrangan Bajoa Bone Ditutup 21 Hari
300 kepala keluarga (KK) kini kehilangan sumber pendapatan utama akibat penutupan pelabuhan Bajoe
“Kami sudah diberitahu akan adanya penutupan. Tadi juga sempat diberikan bantuan sembako berupa beras, Indomie, teh, dan terigu. Tapi kan ini bantuannya hanya sekali, sementara kami kehilangan pekerjaan kurang lebih satu bulan,” ungkapnya.
Rahma yang telah puluhan tahun berjualan di pelabuhan itu mengaku sepenuhnya bergantung pada aktivitas penyeberangan.
Bahkan, barang dagangan yang dijualnya merupakan titipan dari orang lain dengan sistem bagi hasil.
“Saya sudah lama berjualan di sini, sudah puluhan tahun. Dagangan yang saya jual juga bukan punya saya, saya ambil dari orang lain lalu dibagi hasilnya,” ujarnya.
Dalam sehari, ia biasanya memperoleh penghasilan sekitar Rp100 ribu dari pagi hingga malam hari.
“Sehari paling banyak saya dapat Rp100 ribu, dari pagi sampai malam, kadang sampai jam 10 atau 11 malam,” jelasnya.
Ia berharap ada solusi konkret dari pihak terkait agar para pedagang tidak kehilangan mata pencaharian sepenuhnya.
“Kami sangat menggantungkan hidup di sini. Katanya pihak ASDP mau membuka bagian depan supaya kami tetap bisa berjualan, tapi teknisnya kami tidak tahu. Jangan sampai kami disuruh sewa tenant, karena harganya pasti mahal. Kami ini bisa apa,” tandasnya.
| Diserang Samurai dan Badik di Bone, Karyawan Luka Parah hingga Jari Putus |
|
|---|
| Prof Wahyuddin Halim: Orang Taat Menjalankan Ritual Agama tapi Tetap Korupsi |
|
|---|
| Cegah Keributan, Mahasiswa di Tonra Bone Dianiaya Warga |
|
|---|
| Kenaikan Harga BBM Nonsubsidi Sudah Terasa di Bone, Ketua HIPMI: Omzet Menyusut |
|
|---|
| Aksi Babinsa di Bone: Terjun Langsung ke Sawah, Bantu Petani Tanam Padi |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/20260429-Fahri-Rusli-33.jpg)