Pengukuhan Prof Wahyuddin Halim
Prof Wahyuddin Halim: Orang Taat Menjalankan Ritual Agama tapi Tetap Korupsi
Di mimbar akademik, Wahyuddin Halim berdiri tegak. Ia baru saja resmi menyandang gelar Profesor di bidang Antropologi Agama.
Ringkasan Berita:
- Pengukuhan Profesor Wahyuddin Halim di UIN Alauddin Makassar berlangsung berbeda tanpa karangan bunga dan simbol seremoni.
- Dalam pidatonya, ia menyoroti paradoks beragama di Indonesia, di mana kesalehan ritual tidak selalu sejalan dengan moralitas, seperti fenomena korupsi di kalangan orang yang taat beribadah.
- Melalui pidato “Siri’ na Sara’”, Wahyuddin Halim mengkritik praktik keberagamaan yang hanya berhenti pada simbol dan hafalan, belum menjadi karakter (tajassud).
TRIBUN-TIMUR.COM - Auditorium Kampus II UIN Alauddin Makassar nampak berbeda dari biasanya, Selasa (28/4/2026).
Jika pengukuhan Guru Besar umumnya dikepung oleh ratusan karangan bunga yang berderet hingga ke pelataran, sore itu suasana justru terasa sunyi dari simbol-simbol plastik dan papan ucapan.
Di mimbar akademik, Wahyuddin Halim berdiri tegak. Ia baru saja resmi menyandang gelar Profesor di bidang Antropologi Agama.
Namun, alih-alih merayakan kemegahan seremoni, ia justru melemparkan gugatan intelektual yang menohok tentang realitas beragama di Indonesia: mengapa banyak orang yang nampak saleh dalam ritual, namun justru lancung dalam perilaku.
Dalam pidato pengukuhannya yang berjudul “Siri’ na Sara’: Moralitas Lokal, Paradoks Kesalehan, dan Ikhtiar Penubuhan Islam”, Prof. Wahyuddin membedah luka dalam masyarakat kita.
Sebuah anomali di mana ketaatan ritual tidak berbanding lurus dengan integritas moral.
Baca juga: Tolak Karangan Bunga, Prof Wahyuddin Halim : Tanpa Gratifikasi, Tetapi Memiliki Gravitasi Yang Kuat
"Tema itu dimulai dengan sebuah pertanyaan: Mengapa tidak selalu orang beragama itu mewujudkan agama dalam kehidupan?
Apa menjadi ganjalan bagi 'penubuhan' atau mendarah-dagingnya nilai agama dalam pribadi orang?
"Kita lihat ada orang yang taat menjalankan ritual, tetapi melakukan penyimpangan keuangan negara atau korupsi. Berarti ada kesenjangan antara pengetahuan agama dengan pengamalan," ungkapnya dengan nada tenang namun tajam.
Bagi Wahyuddin, fenomena koruptor yang masih rajin beribadah adalah bukti bahwa agama baru menyentuh kulit, belum mendarah daging (tajassud).
Baginya, pengetahuan agama seringkali berhenti di kepala, menjadi hafalan tanpa menjadi karakter.
Kritik terhadap "kulit" atau simbol-simbol ini pula yang mendasari keputusannya menolak kiriman karangan bunga.
Di saat banyak orang mengejar validasi lewat deretan ucapan selamat yang mewah, ia justru memilih efisiensi.
"Pertama-tama, tradisi ini sebenarnya tidak perlu kita ikuti karena secara akademik tidak begitu mendukung. Pidato pengukuhan itu sebenarnya lebih menonjolkan situasi akademik ketimbang hal-hal yang bersifat aksesoris simbolik. Yang bisa kita eliminir adalah hal-hal yang menelan banyak ongkos finansial padahal manfaatnya tidak terasa. Saya selalu berpikir efisiensi dan efektivitas akademik," tegasnya.
Ia khawatir, masyarakat dan dunia pendidikan kita terlalu terjebak dalam jebakan simbolik. Di mana gelar, IPK, dan aksesoris dianggap lebih penting daripada substansi pemikiran.