Penghasilan 300 KK Hilang Setelah Pelabuhan Penyebrangan Bajoa Bone Ditutup 21 Hari
300 kepala keluarga (KK) kini kehilangan sumber pendapatan utama akibat penutupan pelabuhan Bajoe
Ringkasan Berita:
- 300 kepala keluarga kehilangan penghasilan akibat penutupan Pelabuhan Penyeberangan Bajoa
- Sudah 21 hari pelabuhan Bajoe ditutup
- Mereka yang kena dampak yakni pedagang asongan, tukang ojek, sopir rute Bone–Makassar, hingga buruh angkut
Laporan Wartawan TribunBone.com Wahdaniar
TRIBUN-TIMUR.COM, BONE -- Penutupan sementara Pelabuhan Penyeberangan Bajoe selama 21 hari demi proses perbaikan memicu krisis ekonomi bagi warga lokal.
Aliansi Masyarakat Bajoe Bersatu mencatat sedikitnya 300 kepala keluarga (KK) kini kehilangan sumber pendapatan utama mereka.
Anggota Aliansi, Fahri Rusli, menegaskan angka tersebut merupakan data awal yang terkumpul.
Profesi seperti pedagang asongan, tukang ojek, sopir rute Bone–Makassar, hingga buruh angkut kini berada dalam ketidakpastian.
“Kurang lebih 300 KK yang sudah terdata terdampak. Kami juga tidak tahu pasti jumlah keseluruhannya, tapi angka itu yang sudah terkumpul,” ujar Fahri, Selasa (28/4/2026).
Ia menambahkan rata-rata pekerja kehilangan potensi penghasilan sebesar Rp100 ribu per hari.
Sejauh ini, masyarakat masih menagih janji PT ASDP Indonesia Ferry.
PT ASDP Indonesia Ferry sempat menawarkan pelatihan kewirausahaan UMKM sebagai kompensasi dampak penutupan.
Namun, teknis pelaksanaan janji tersebut masih gelap.
“Memang ada janji dari ASDP terkait seminar kewirausahaan UMKM, tapi teknisnya kami belum tahu seperti apa. Harapan kami, perbaikan ini bisa selesai lebih cepat dari 21 hari,” harap Fahri.
Masyarakat mendesak adanya solusi konkret yang tidak memberatkan, mengingat ketergantungan mereka yang sangat tinggi terhadap aktivitas pelabuhan.
Sementara itu, seorang pedagang asongan di Pelabuhan Bajoe, Rahma, mengaku sudah menerima informasi terkait penutupan tersebut.
Ia menyebut pada hari ini menerima bantuan sembako, namun belum cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
| Diserang Samurai dan Badik di Bone, Karyawan Luka Parah hingga Jari Putus |
|
|---|
| Prof Wahyuddin Halim: Orang Taat Menjalankan Ritual Agama tapi Tetap Korupsi |
|
|---|
| Cegah Keributan, Mahasiswa di Tonra Bone Dianiaya Warga |
|
|---|
| Kenaikan Harga BBM Nonsubsidi Sudah Terasa di Bone, Ketua HIPMI: Omzet Menyusut |
|
|---|
| Aksi Babinsa di Bone: Terjun Langsung ke Sawah, Bantu Petani Tanam Padi |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/20260429-Fahri-Rusli-33.jpg)