Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Kenaikan Harga BBM Nonsubsidi Sudah Terasa di Bone, Ketua HIPMI: Omzet Menyusut

Tidak hanya memicu kenaikan harga bahan baku, kondisi ini juga berdampak pada penurunan omzet

Tayang:
Penulis: Wahdaniar | Editor: Ansar
Tribun-timur.com
BBM NAIK- Ketua HIPMI Bone, Andi Sinrang, Rabu (29/4/2026). BBM naik, Ketua HIPMI Bone ungkap omzet turun dan margin usaha menyusut.  

TRIBUN-TIMUR.COM, BONE — Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) mulai dirasakan dampaknya oleh pelaku usaha di Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan. 

Tidak hanya memicu kenaikan harga bahan baku, kondisi ini juga berdampak pada penurunan omzet, serta menyusutnya margin keuntungan pelaku UMKM.

Ketua HIPMI Bone, Andi Sinrang, mengatakan, dampak kenaikan BBM tidak serta-merta dirasakan langsung oleh pengusaha, melainkan lebih terasa di tingkat konsumen.

“Kalau pengusaha itu sebenarnya tinggal menyesuaikan harga pokok produksi (HPP). Tapi ujung-ujungnya tetap customer yang terdampak,” ujarnya saat dikonfirmasi, Rabu (29/4/2026). 

Ia menjelaskan, kenaikan harga BBM memicu lonjakan harga bahan baku di berbagai sektor usaha.

Hal ini membuat pelaku usaha harus melakukan penyesuaian, baik pada biaya produksi maupun strategi penjualan.

Menurutnya, sebagian pelaku usaha memilih tidak langsung menaikkan harga jual, melainkan menahan margin keuntungan agar tidak kehilangan pelanggan.

“Banyak yang tidak langsung naikkan harga, tapi profitnya yang dikurangi. Dari yang tadinya 100 persen, sekarang bisa tinggal 70 sampai 80 persen,” jelasnya.

Selain itu, omzet penjualan juga ikut terdampak akibat menurunnya daya beli masyarakat.

“Produksi juga ikut turun. Misalnya sebelumnya bisa 10 unit, sekarang mungkin hanya 7 unit karena orang berpikir ulang untuk membeli,” tambahnya.

Andi Sinrang menyebut, sektor usaha yang paling terdampak adalah usaha dengan perputaran harian seperti food and beverage (F&B), serta sektor retail.

“F&B itu paling terasa karena perputarannya harian. Termasuk usaha kecil seperti plastik dan jasa juga ikut terdampak,” katanya.

Ia juga menyoroti adanya kecenderungan sebagian pelaku usaha yang menaikkan harga melebihi batas wajar.

“Secara teori, kenaikan itu idealnya 10 sampai 20 persen. Tapi ada juga yang memanfaatkan momentum dengan menaikkan lebih tinggi,” ujarnya.

Meski demikian, ia menilai kebijakan pemerintah masih cukup terukur karena tidak semua jenis BBM mengalami kenaikan.

“Cepat atau lambat pasti akan ada penyesuaian harga. Tinggal bagaimana kita komunikasikan ke konsumen,” tutup Andi Sinrang.

Ia berharap kondisi ini dapat segera stabil, meski mereka menyadari penyesuaian harga kemungkinan tidak dapat dihindari ke depan.

Seorang pelaku UMKM di Bone, Rina (32), yang menjalankan usaha minuman kekinian, mengaku mulai merasakan dampak signifikan sejak kenaikan BBM.

“Harga bahan baku seperti gula, susu, sama plastik cup itu naik semua. Mau tidak mau kami harus kurangi porsi keuntungan,” ujarnya.

Ia mengaku belum berani menaikkan harga jual karena khawatir pelanggan berkurang.

“Kalau harga langsung dinaikkan, takutnya pembeli lari. Jadi sekarang kami akali dengan kurangi promo dan efisiensi bahan,” katanya. (*)

 

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved