Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

DPRD Bone Bimtek ke Bandung saat Prabowo Gaungkan Hemat Anggaran, Warga Protes Keras

Sebagian memilih tidak hadir, sementara lainnya tetap mengikuti rangkaian bimtek hingga selesai.

Penulis: Wahdaniar | Editor: Ansar
Tribun-timur.com
BIMTEK DPRD- Unggahan Facebook DPRD Bone, Andi Muhammad Fadel saat mengikuti bimtek di Bandung (26/4/2026). Anggota DPRD Bone ikuti bimtek luar daerah, warga soroti kebijakan efisiensi. (Facebook Andi Muhammad Fadel) 

Sementara itu, Nuraini (41) mempertanyakan urgensi pelaksanaan kegiatan di luar daerah.

“Kenapa harus jauh-jauh ke Bandung? Apakah tidak bisa dilaksanakan di Sulawesi Selatan saja agar lebih hemat?” katanya.

Hingga berita ini diturunkan, Tribun Timur masih berupaya menghubungi Sekretariat DPRD Bone (Sekwan) untuk memperoleh konfirmasi resmi, namun belum mendapatkan respons.

Prabowo Hemat

Presiden Prabowo Subianto mengatakan, pemerintah dapat menghemat anggaran hingga Rp308 triliun setelah memberlakukan kebijakan efisiensi dengan memangkas pos-pos belanja yang tidak produktif.

Menurutnya, efisiensi anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) bertujuan untuk menyelamatkan uang rakyat dari potensi tindak pidana korupsi.

Hal itu disampaikan Prabowo dalam sesi tanya jawab dengan jurnalis di kediamannya, Hambalang, Bogor, Jawa Barat, Kamis (19/3/2026).

"Waktu pertama kita lakukan efisiensi, kita menghemat Rp308 triliun dari pusat sebagian besar ya. Dan dari mana itu? Dari semua pengeluaran yang akal-akalan. Keyakinan saya itu semua Rp308 triliun ini, kalau tidak dipotong ini ke arah korupsi," ungkapnya.

Prabowo mengaitkan langkah tersebut dengan indikator ekonomi Incremental Capital Output Ratio (ICOR), yang menunjukkan tingkat efisiensi investasi suatu negara.

Ia menyebut ICOR Indonesia berada di angka level 6,5, jauh lebih tinggi dibandingkan negara tetangga seperti Thailand (4), Malaysia (4), bahkan Vietnam (3,6).

Tingginya angka ICOR menunjukkan bahwa Indonesia membutuhkan modal yang jauh lebih besar untuk menghasilkan satu unit pertumbuhan ekonomi dibandingkan negara lain.

Dengan APBN yang mendekati Rp 3.700 triliun (US$230 miliar), Prabowo melihat ada ketidakefisienan sekitar 30 persen atau setara US$75 miliar.

Prabowo menyebut efisiensi yang sudah dilakukan oleh pemerintahannya baru tahap awal.

Ia menilai masih banyak ruang untuk penghematan, terutama dari belanja rutin yang tidak esensial.

Sejumlah pos anggaran yang dipangkas antara lain biaya seremonial, pembelian alat tulis kantor, hingga pengeluaran untuk rapat dan seminar di luar kantor.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved