Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Tak Kunjung Dapat Bantuan, Warga Sibulue Bone Gotong Royong Bangun Jembatan Bambu Demi Angkut Gabah

Para petani memikul karung berisi padi di pundak, berjalan perlahan melawan arus sungai demi membawa hasil panen ke tempat tujuan.

Penulis: Wahdaniar | Editor: Ansar
Tribun-timur.com
PETANI BONE - Potret jembatan darurat dari bambu dibangun secara swadaya melalui gotong royong, Minggu (5/4/2026). Tak kunjung dapat bantuan, warga Sibulue Bone gotong royong bangun jembatan bambu demi angkut gabah.  (Warga/Rahman) 

TRIBUN-TIMUR.COM, BONE - Warga Dusun Sompobia, Desa Tadang Palie, Kecamatan Sibulue, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, terpaksa bergotong royong membangun jembatan darurat dari bambu.

Dusun itu tak kunjung mendapatkan bantuan pembangunan jembatan permanen.

Kondisi ini sudah berlangsung cukup lama dan menjadi keluhan utama masyarakat.

Petani harus berjuang mengangkut sendiri hasil panen mereka.

Tak adanya jembatan penghubung membuat warga terpaksa menyeberangi sungai dengan arus deras dan kedalaman yang mencapai leher orang dewasa.

Pemandangan itu pun menjadi rutinitas harian. 

Para petani memikul karung berisi padi di pundak, berjalan perlahan melawan arus sungai demi membawa hasil panen ke tempat tujuan.

Langkah mereka terlihat sangat hati-hati. Sedikit saja kehilangan keseimbangan, nyawa bisa menjadi taruhannya.

Warga, Rahman (45), mengaku kondisi tersebut sangat menyiksa, terutama saat debit air meningkat. 

“Kalau air naik sampai leher, kami hanya bisa pasrah. Gabah di pundak harus tetap dibawa, tapi keselamatan seperti tidak ada jaminan,” ujarnya saat dikonfirmasi, Minggu (5/4/2026).

Ia bahkan mengaku pernah hampir hanyut saat mencoba menyeberangi sungai sambil memikul hasil panen.

“Saya pernah terpeleset, hampir terbawa arus. Waktu itu saya pikir mungkin sudah tidak selamat. Tapi saya ingat keluarga di rumah, jadi saya berusaha bertahan,” tuturnya. 

Warga lainnya, Ali (38), juga mengungkapkan kesedihannya karena kondisi tersebut seolah tak mendapat perhatian.

“Kami ini petani kecil, hanya berharap bisa hidup dari sawah. Tapi untuk bawa hasil panen saja harus bertaruh nyawa. Kadang terasa seperti kami ini tidak dianggap,” katanya.

Menurutnya, setiap musim panen justru menjadi momen yang paling menegangkan, bukan membahagiakan.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved