Cuaca Buruk
Harga Ikan Naik Imbas Cuaca Buruk, Ibu Rumah Tangga di Bone Pilih Konsumsi Telur
Cuaca buruk mengakibatkan tingginya gelombang di laut memaksa nelayan Bone, Sulsel, tak melaut sudah sepekan.
Ringkasan Berita:
- Cuaca buruk mengakibatkan tingginya gelombang di laut memaksa nelayan Bone, Sulsel, tak melaut sudah sepekan.
- Darmawati (45), ibu rumah tangga yang ditemui di Pasar Sentral Palakka, Kecamatan Tanete Riattang Barat, Kabupaten Bone, mengaku harga ikan naik sehingga beralih mengonsumsi telur.
TRIBUN-TIMUR.COM, BONE - Kenaikan harga ikan di sejumlah pasar tradisional di Kabupaten Bone membuat sebagian ibu rumah tangga mengubah pola konsumsi harian keluarga.
Salah satunya dilakukan Darmawati (45), ibu rumah tangga yang ditemui di Pasar Sentral Palakka, Kecamatan Tanete Riattang Barat, Kabupaten Bone, Selasa (13/1/2026) sore.
Darmawati mengaku sudah sekitar sepekan terakhir memilih mengonsumsi telur sebagai lauk utama bersama keluarganya lantaran harga ikan terus mengalami kenaikan.
“Ikan sekarang mahal sekali. Tuna sedang yang biasanya Rp50 ribu per ekor, sekarang sudah naik jadi Rp80 ribu,” ujar Darmawati saat ditemui usai berbelanja kebutuhan rumah tangga.
Tak hanya tuna, ikan kembung yang selama ini menjadi lauk harian keluarga juga mengalami kenaikan harga cukup signifikan.
“Kalau ikan kembung biasanya Rp30 ribu setengah kilo, itu bisa dapat 4 sampai 5 ekor. Sekarang sudah naik jadi Rp45 ribu setengah kilo,” katanya.
Baca juga: Sudah Sepekan Ratusan Kapal Nelayan Tertambat di Pelabuhan Paotere Makassar Akibat Cuaca Buruk
Menurut Darmawati, kondisi tersebut membuatnya harus lebih pandai mengatur pengeluaran dapur agar tetap mencukupi kebutuhan keluarga.
“Biasanya ikan itu dipakai makan sehari-hari. Tapi sekarang saya pilih telur saja karena lebih hemat,” jelasnya.
Ia menyebutkan, satu rak telur dengan harga sekitar Rp50 ribu bisa dikonsumsi keluarganya selama lima hari hingga satu pekan.
“Kalau telur satu rak bisa tahan lama, jadi lebih irit dibanding beli ikan,” tuturnya.
Kenaikan harga ikan ini diduga kuat dipicu oleh cuaca buruk yang melanda perairan Bone dan sekitarnya, sehingga banyak nelayan memilih menunda melaut.
Warga lainnya, Nur Aisyah (38), juga mengaku merasakan dampak kenaikan harga ikan tersebut.
“Sekarang jarang beli ikan, paling dua kali seminggu. Selebihnya masak telur atau tempe,” ujar Nur Aisyah.
Hal senada disampaikan Rahmawati (50), warga Tanete Riattang, yang menyebutkan bahwa kondisi ini cukup memberatkan masyarakat kecil.
| Sinjai Diterjang Angin Kencang, 1 Rumah Tertimpa Pohon |
|
|---|
| Makassar Siaga Pohon Tumbang |
|
|---|
| Nelayan Bulukumba Tak Melaut Akibat Cuaca Buruk, Harga Ikan Melonjak! |
|
|---|
| 14 Rumah Rusak Diterjang Angin Kencang di Sinjai, 52 Warga Mengungsi |
|
|---|
| Sungai Jeneberang Meluap, Jembatan Congkina di Kecamatan Tinggimoncong Gowa Tak Bisa Dilalui |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/2026012-Kapal-nelayan-Bone.jpg)