Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Tahun Ajaran Baru

Usaha Jahit Kadir dan Istri di Jl Mannuruki Makassar Ramai Pesanan Seragam Sekolah

Tahun ajaran baru dimulai, tukang jahit di Makassar banjir order seragam. Tetap jaga kualitas, tarif tak naik. Pelanggan rela antre.

Penulis: Erlan Saputra | Editor: Sukmawati Ibrahim
ERLAN SAPUTRA/TRIBUN TIMUR
TUKANG JAHIT – Kadir, penjahit di Jl Mannuruki Raya, Makassar, kebanjiran pesanan jelang dimulainya tahun ajaran baru 2025/2026. Demikian disampaikan Kadir saat ditemui Tribun-Timur, Minggu (13/6/2025) siang. 

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSARTahun Ajaran Baru Dimulai, Tukang Jahit di Makassar Kebanjiran Order Seragam

Tahun ajaran baru 2025/2026 dimulai Senin, 14 Juli 2025.

Momen ini membawa berkah bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), terutama tukang jahit.

Salah satunya Kadir (56), penjahit rumahan di Jl Mannuruki Raya, Kecamatan Tamalate, Makassar.

Bersama istrinya, Ernawati (46), ia telah menjalani usaha ini sejak 1997.

Pria asal Dompu, Nusa Tenggara Barat (NTB), itu mengaku tempat jahitnya nyaris tak sepi dalam dua pekan terakhir.

“Sudah dua minggu ini jelang masuk ajaran baru, banyak orderan. Jadi kami kewalahan. Yah, Alhamdulillah, banjir orderan. Ini masih banyak menumpuk,” ujar Kadir, Minggu (13/7/2025).

Pesanan yang masuk bervariasi, mulai dari menjahit seragam baru, mengecilkan pakaian, memasang papan nama, bordir logo sekolah, hingga memotong ulang ukuran baju dan celana.

“Seperti pasang papan nama, kasih kecil ukuran pakaian seragam sekolah, potong baju, potong celana. Jadi banyak macam,” tambahnya.

Meski ramai pesanan, Kadir tidak menaikkan tarif.

Ia tetap mengedepankan kepercayaan pelanggan dan keberkahan usaha.

“Kalau pasang logo, papan nama itu Rp5.000. Kalau kecilkan baju, itu Rp20 ribu, kadang juga Rp15 ribu kalau baju SD," kata Kadir.

"Saya ini tidak mau ambil kesempatan dalam kesempitan. Yang saya cari itu berkahnya, kepercayaan pelanggan. Mau itu Lebaran, tahun ajaran baru, atau hari penting lainnya, saya tidak pernah naikkan tarif,” jelas ayah empat anak ini.

Untuk menyelesaikan pesanan yang menumpuk, Kadir bahkan rela bekerja tanpa henti.

“Kalau di momen seperti ini, saya bangun langsung kerja. Jam berapa pun bangun, langsung lanjut. Tidak ada waktu libur. Karena yang dikejar itu anak sekolah mau masuk sekolah, dan itu tidak bisa ditunda,” katanya.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved