Opini
Transformasi Haji Indonesia
Kementerian Agama bisa jadi akan mengakhiri pelaksanaan haji tahun 2025 ini dengan segala kekurangan yang ada.
Oleh: M. Kafrawy Saenong
PPIH Arab Saudi 2025 dan Pengasuh PP. Ash-Shalihin Gowa
TRIBUN-TIMUR.COM - Hanya langit yang tak retak, mungkin ini ungkapan yang bisa membesarkan hati kita semua agar semakin memahami bahwa kesempurnaan hanya milik Allah Subhanawatala.
Kementerian Agama bisa jadi akan mengakhiri pelaksanaan haji tahun 2025 ini dengan segala kekurangan yang ada.
Menteri Agama, Anregurutta Nasaruddin Umar menyampaikan di Hari Arafah, Mekkah bahwa segala kesuksesan dan kekurangan yang ada tidak perlu menunjuk siapa yang berjasa dan salah.
Jiwa kesatria ditunjukkan menag untuk persoalan haji biarlah menjadi tanggungjawabnya secara institusi.
Pelaksanaan haji tentu setiap tahunnya memiliki kendala di lapangan.
Mitigasi terus dilakukan agar kelancaran ibadah jamaah haji Indonesia dapat terlaksana sesuai dengan motto haji tahun ini yaitu aman, nyaman dan mabrur sepanjang hayat.
Jumlah jamaah haji Indonesia tahun ini memang turun yaitu menjadi 221.000 jamaah. Jumlah ini menjadi terendah sejak 30 tahun terakhir.
Dari sisi angka kematian, hingga H-1 kembalinya jamaah haji ke tanah air telah mengalami penurunan signifikan.
Tahun 2024, jumlah haji yang wafat yaitu 461 jamaah. Hingga saat ini 180 jamaah telah meninggal dunia di Arab Saudi.
Pemerintah melalui Kementerian Agama, Kementerian Kesehatan dan Badan Penyelenggara Haji terus memaksimalkan upaya menjaga jiwa dengan terus menghimbau jamaah untuk kemaslahatan bersama.
Hal baru yang dialami jamaah tahun ini dengan pelayanan berbasis syarikah membuat banyak suara-suara yang tidak nyaman bagi jamaah.
Ada pendamping yang harus terpisah hotel, bahkan satuan kloter yang harus terpisah-pisah. Hal baru tentu harus diadaptasikan.
Selama ini, jamaah haji Indonesia ditangani oleh satu syarikah. Kemudian di tahun 2025, harus ditangani dengan delapan syarikah.
Semua permasalahan ini, juga tak luput untuk diurai oleh usaha komunikasi yang intens dengan banyak pihak.
Layanan kesehatan juga tak luput dari hambatan yang datang dari Kementerian Kesehatan Arab Saudi yang menutup pelayanan klinik di setiap hotel.
Sehari setelah datangnya rombongan amirul hajj, menag langsung bermohon dengan pihak kerajaan agar memberikan izin akses pelayanan kesehatan di setiap hotel jamaah haji Indonesia.
Hambatan-hambatan lain berupa jamaah harus berjalan dari Musdalifah ke Mina sekitar 5-7 KM juga menjadi sorotan tidak hanya di tanah air, tetapi di seluruh dunia yang memiliki jamaah haji.
Hal ini terjadi karena kemacetan yang sulit terurai di beberapa jalan Musdalifah-Mina begitupun sebaliknya.
Pihak kerajaan juga telah menyampaikan permohonan maaf terkait jamaah yang harus jalan cukup jauh saat perjalanan Musdifah ke Mina.
Estafet pelaksanaan haji mungkin akan berakhir di Kemenag tahun ini. Awal pengelolaan bagi Badan Penyelenggara Haji.
Dinamika di ruang wakil rakyat untuk peningkatan badan haji menjadi kementerian terus naik ke permukaan. Kemenag tentu hendak mencapai kesuksesan haji di tahun 1446 Hijriyah ini dengan dukungan dan doa banyak pihak.
Jika melihat sejarah haji di awal-awal pasca kemerdekaan, naik haji dilalui dengan jalur laut.
Harus menempu berhari-hari di Samudera yang luas. Bekal yang banyak harus disiapkan dalam menjalankan ibadah haji. Harus melewati badai dan banyak gelombang yang tentu tidaj dirasakan oleh jamaah haji hari ini.
Oleh karena itu, setidaknya ada tiga rekomendasi yang bisa menjadi masukan untuk pelaksanaan ibadah haji di tahun-tahun berikutnya.
Pertama, memperkuat Koordinasi antar lembaga dan syarikah dalam pelayanan haji. Perubahan dari satu syarikah menjadi delapan syarikah di tahun 2025 memunculkan masalah seperti terpisahnya pendamping dan kloter jamaah.
Untuk itu, Kementerian Agama atau Badan Haji perlu meningkatkan koordinasi yang lebih intensif dan terstruktur.
Hal itu bisa dilakukan melalui pembentukan tim gugus tugas khusus yang beranggotakan perwakilan dari semua pihak terkait, dengan fokus pada standarisasi prosedur, komunikasi, dan penanganan masalah di lapangan.
Tujuannya adalah memastikan integrasi layanan yang mulus demi kenyamanan dan keamanan jamaah.
Kedua, mengembangkan strategi mitigasi jangka panjang untuk tantangan di lapangan.
Hal ini bisa mencakup pemetaan dan analisis mendalam terhadap titik-titik rawan kemacetan dan hambatan transportasi di sekitar Masyair (Arafah, Muzdalifah, Mina).
Negosiasi bilateral (antar pemerintah) yang lebih awal dan berkelanjutan dengan pemerintah Arab Saudi mengenai akses layanan kesehatan bagi jamaah Indonesia di hotel.
Penyediaan informasi dan edukasi yang lebih komprehensif kepada jamaah sebelum keberangkatan mengenai potensi tantangan di lapangan, termasuk skenario perjalanan yang mungkin berbeda dari ekspektasi.
Terakhir, mempercepat transisi dan peningkatan peran Badan Penyelenggara Haji.
Adanya wacana estafet pelaksanaan haji, harus dilakukan dengan cepat dan akurat. Hal mendasar disebabkan kompleksitas dan dinamika penyelenggaraan haji setiap tahunnya, penting untuk mempercepat dan memperkuat transisi pengelolaan haji kepada Badan Penyelenggara Haji.
Ini harus disertai dengan peningkatan kapasitas sumber daya manusia, kewenangan, dan anggaran yang memadai agar badan ini dapat bekerja secara lebih efektif dan efisien.
Tujuannya adalah menciptakan lembaga yang lebih gesit dan adaptif dalam menghadapi tantangan, serta mampu memberikan pelayanan haji yang optimal secara berkelanjutan.
Kemenag memiliki harapan agar haji tahun ini sukses hingga akhir. Potensi dengan komunikasi yang intens terus dimaksimalkan guna meminimalisir kekurangan yang ada. Semoga.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/M-Kafrawy-Saenong-PPIH-Arab-Saudi-2025.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.