Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Haji 2025

Umrah Sunnah 23 Kali, Jemaah Haji Tumbang Menjelang Arafah

 Jamaah haji sampai 23 kali umrah sunnah, tapi kelelahan dan harus diinfus jelang Arafah. Jangan ulangi kesalahan ini saat ibadah haji.

Tayang:
Penulis: Mansur AM | Editor: Sukmawati Ibrahim
Mansur Amirullah / Media Centre Haji
LAYANAN MANASIK - Jamaah Haji Kloter 23 dan 24 Embarkasi Surabaya menyimak penjelasan teknis manasik haji dari Mustasyar Dini (Konsultan Ibadah) Haji di Hotel Sektor 9 Makkah, Senin (19/5/2025). 

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKKAH – Sebanyak 86.777 jamaah haji Indonesia telah tiba di Kota Makkah, Arab Saudi, hingga Selasa (20/5/2025).

Jamaah tersebut terdiri dari 67.942 orang dari gelombang pertama yang berangkat melalui Madinah dan 18.835 orang dari gelombang kedua berangkat melalui Jeddah.

Setibanya di Makkah, para jamaah langsung menunaikan umrah wajib di Masjidil Haram. 

Mayoritas jamaah Indonesia memilih skema Haji Tamattu, yaitu melaksanakan umrah lebih dahulu sebelum menunggu puncak ibadah haji di Arafah. Skema ini mensyaratkan pembayaran dam berupa satu ekor kambing.

Umrah Sunnah Berulang-ulang Bisa Berdampak Buruk

Setelah menunaikan umrah wajib, jamaah menunggu puncak haji di Arafah (9 Dzulhijjah) dengan menjalankan salat lima waktu di Masjidil Haram. 

Untuk mendukung kenyamanan ibadah, PPIH Arab Saudi menyediakan bus shalawat yang mengantar jamaah dari hotel ke Masjidil Haram.

Sebagian jamaah memanfaatkan masa tunggu ini dengan melakukan umrah sunnah, baik untuk diri sendiri maupun diniatkan untuk orang lain, termasuk keluarga.

Namun, aktivitas berlebihan ini bisa berdampak buruk.

“Ada kejadian, jamaah haji melakukan umrah sunnah hingga 23 kali sejak tiba di Makkah. Saat puncak haji di Arafah, jamaah tersebut justru harus dirawat dan diinfus karena kelelahan. Jangan sampai terjadi pada Anda,” ujar Mustasyar Dini, Dr Indo Santalia, saat membimbing manasik haji di Hotel Safwat Almifad, Misfalah, Makkah, Senin (19/5/2025).

Indo Santalia yang juga Rektor Universitas As’adiyah (Unisad) Sengkang, Wajo, Sulawesi Selatan ini mengingatkan ibadah haji adalah rukun Islam kelima yang bagi banyak umat Muslim hanya bisa dijalankan sekali seumur hidup.

“Manfaatkan kesempatan ini sebaik mungkin, termasuk menjaga fisik, apalagi menjelang puncak ibadah di Arafah,” tambahnya.

Lansia Diminta Tidak Memaksakan Diri

Pembimbing Ibadah (Bimbad) Sektor 9 Daker Makkah, Najamuddin Umar, mengingatkan agar jamaah lanjut usia tidak mengikuti pola ibadah jamaah yang lebih muda.

“Untuk lansia, jaga kesehatan. Tidak harus memaksakan diri ke Masjidil Haram. Salat lima waktu di musala hotel juga berpahala sama seperti di Masjidil Haram. Intinya, jaga fisik untuk menghadapi puncak haji di Arafah,” ujar pegawai Kemenag Sulbar ini.

Mustasyar dini dan bimbad merupakan layanan bimbingan ibadah haji dari Kementerian Agama. 

Untuk menjadi mustasyar dini atau bimbad, seseorang harus sudah pernah menunaikan ibadah haji.

Tanggapan Jamaah

Salah satu jamaah, Haryono, mengapresiasi kegiatan bimbingan ini.

“Sangat bermanfaat. Penceramahnya paham kebutuhan jamaah. Materinya pas,” kata Haryono yang berangkat bersama istrinya, Iis Sumarwati. 

Mereka tergabung dalam Kloter 23 Embarkasi Surabaya dan telah mendaftar haji sejak 2012.

Jamaah lain, Aminah (46) asal Sumenep, mengikuti manasik dari awal hingga akhir.

Ahmad Alvin Nurilham juga merasa sangat terbantu.

Menurutnya, bimbingan mencakup praktik ibadah dan penjelasan fikih bagi jamaah uzur.

“Aspek spiritual juga disampaikan secara menyentuh,” ujarnya.

Jelang Armuzna, Fokus Jaga Stamina

Mustasyar Dini dan Bimbad, termasuk Dr Nur Chalida Badrus dan Dr Indo Santalia, memberikan siraman rohani kepada jamaah di Hotel 914, kawasan Misfalah, Makkah, Senin (19/5/2025).

“Selain konsumsi, transportasi, dan akomodasi, pembimbingan spiritual juga penting. Ini momen langka, mungkin hanya sekali seumur hidup,” kata Indo Santalia.

Sesuai aturan Kemenag RI, jamaah reguler yang sudah pernah berhaji hanya dapat mendaftar kembali setelah 10 tahun.

“Karena itu, manfaatkan momentum ini untuk ibadah, terutama puncaknya di Arafah,” ujarnya.

Indo Santalia mengingatkan jamaah asal Sumenep, Jawa Timur, agar menjaga kondisi fisik setelah umrah wajib.

“Kalau sudah kelelahan, jangan dipaksakan ke Masjidil Haram. Kita masih di tahap pra-Armuzna, belum sampai puncak Arafah,” katanya.

Sementara itu, Dr Nur Chalida Badrus mengajak jamaah memperbanyak zikir dan tasbih sebagai bentuk syukur atas kesempatan menunaikan ibadah haji. 

Peserta manasik ini berasal dari Kloter 23 dan 24 Embarkasi Surabaya, mayoritas dari Kabupaten Sumenep. (*)

 

 

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved