Antara Lebaran, Silaturahmi dan Konsumerisme
Seperti menjalin silaturahmi, berbagi makan dan minum untuk orang berbuka, hingga mengadakan buka puasa bersama.
Fenomena sosial yang sering kita jumpai menjelang lebaran sangatlah beragam tapi yang umum terjadi seperti mudik, belanja pakaian lebaran, pembuatan kue hingga menunjukkan perubahan status sosial kita.
Diantara kebiasaan yang terjadi diatas hampir dikatakan semua muaranya dari sisi material.
Apakah benar konsumerisme sudah jadi budaya menjelang lebaran?
Untuk membuktikan fenomena ini, coba kita lihat secara langsung pasar-pasar, mall dan pusat perbelanjaan. Kita akan menjumpai orang-orang tengah mencari pakaian lebaran, pakaian baru untuk digunakan pada saat hari raya dan menjelang hari raya ketika ziarah kepada kerabat dan kenalan. Secara sadar apakah ini penting untuk kita lakukan? Bagi sebagian orang penting sebab hari lebaran adalah momentum orang mengadakan pertemuan, saling berkunjung mengunjungi rumah, menyediakan hidangan dari yang ringan dan berat. Renovasi rumah agar layak dikunjungi dan beragam hal-hal yang selalu dalam nuansa baru menjelang lebaran.
Bagi para pelaku usaha hingga industri melihat bulan Ramadhan sebagai peluang bisnis yang sangat besar. Makanya, kadang-kadang pelaku usaha baru kita temukan hanya bulan Ramadhan saja, seperti usaha makanan hingga pakaian.
Sebab, sangat benar keinginan belanja mengalami peningkatan. Sehingga, pasca Ramadhan pengusaha musiman tidak kita temui lagi. Sebab, mereka hadir bukan pada minat pengembangan usaha melainkan memenuhi permintaan barang dan jasa yang mengalami peningkatan selama bulan Ramadhan. Juga melihat potensi pasar yang besar untuk meraup keuntungan sebanyak-banyaknya selama sebulan penuh.
Karena melihat ini sebagai pasar. Maka para pengusaha, dari pasar-pasar, mall dan pusat perbelanjaan melakukan strategi marketing sebagai magnet dan daya tarik untuk konsumen, sehingga kita banyak menemui “discount atau promo.” Ini salah satu taktik yang selalu berhasil menjadi magnet bagi para konsumen untuk tertarik membeli dan memiliki barang. Sehingga ekosistem belanja dan konsumerisme pada bulan Ramadhan makin kukuh. Mengukuhkan budaya konsumerisme ini makin kuat pada sendi-sendi kehidupan masyarakat.
Lalu timbul pertanyaan apakah budaya konsumerisme bulan Ramadhan dan menjelang lebaran adalah situasi normal yang harus kita terima dan jalankan?
Patut kita sadari bahwa pakaian, pembuatan kue, renovasi rumah dan nuansa-nuansa baru di atas, bisa kita lakukan dan bisa terjadi jauh-jauh hari sebelum Ramadhan atau jauh-jauh hari seusai bulan Ramadhan.
Ini menandakan agar kita hidup dengan penuh kesadaran. Membeli pakaian sesuai kebutuhan, membuat kue hingga renovasi rumah juga kebutuhan bukan sebagai ajang memamerkan diri dan barang baru demi raihan status sosial.
Baiknya nuansa-nuansa yang baru pada bulan Ramadhan dari pakaian baru, pembuatan kue dan renovasi rumah sebagai ajang kembali pada diri sejati kita, menjadi pribadi yang lebih baik lagi dan momentum lebaran sebagai momentum silaturahmi, merajut kembali kebaikan-kebaikan melalui jalan silaturahmi demi menumbuhkan asa dan harapan kita bersama.
Selamat menjalankan ibadah puasa dan selamat menanti hari raya Idul fitri yang ke 1446 Hijriah atau 2025 Masehi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Andi-Yahyatullah-Muzakkir-01.jpg)