Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini Mattewakkan

Ketika Stadion Dibangun di Untia

Sebuah stadion baru akan berdiri di Untia, kawasan pesisir yang perlahan tapi pasti mulai ditarik ke dalam orbit Makassar.

Tayang:
Editor: Sudirman
Ist
Mattewakkan, Penulis adalah mahasiswa Program Doktor Ilmu Politik Universitas Hasanuddin 

Oleh: Mattewakkan

Pemerhati Ruang Publik, Mahasiswa Program Doktor Ilmu Politik Unhas

TRIBUN-TIMUR.COM - Di atas kertas, rencananya tampak keren.

Sebuah stadion baru akan berdiri di Untia, kawasan pesisir yang perlahan tapi pasti mulai ditarik ke dalam orbit Makassar.

Stadion itu bukan sekadar bangunan. Ia adalah simbol—lambang modernitas yang ingin ditunjukkan kota ini ke dunia.

Bahwa Makassar tak lagi cukup hanya menatap laut, tapi siap menantang siapa saja di luar sana.

Namun, seperti banyak rencana besar lainnya, ide membangun stadion di Untia membawa serta beban yang tak kasatmata.

Di balik desain arsitektural megah dan presentasi para investor, tersembunyi persoalan klasik yang selalu muncul di negeri ini: soal ruang, soal siapa yang berhak atasnya, dan siapa yang perlahan-lahan terpinggirkan.

Di sinilah letak persoalan utamanya, ketika pembangunan fisik kerap tak sejalan dengan pembangunan sosial.

Politik di Balik Tata Ruang

Tak ada ruang yang sepenuhnya netral. Setiap jengkal tanah adalah arena tarik-menarik kepentingan.

Di kota-kota pesisir yang tengah bergeliat seperti Makassar, politik ruang bekerja secara halus sekaligus kejam.

Stadion memang tampak sebagai pusat olahraga dan hiburan. Tapi bagi sebagian orang, itu adalah penanda bahwa hidup mereka tak lagi sepenuhnya milik sendiri.

Untia, yang dulu dikenal sebagai kawasan pesisir nelayan dengan tambak dan perahu-perahu sederhana, kini menjadi panggung tarik-menarik kepentingan elite.

Pemerintah kota bermimpi tentang landmark baru—ikon kebanggaan yang menegaskan Makassar sebagai kota metropolitan.

Sementara bagi pengembang, proyek ini adalah tambang emas: membuka kawasan komersial, membangun hotel, pusat belanja, dan mengubah lahan-lahan produktif masyarakat menjadi ruang-ruang konsumsi yang hanya menguntungkan segelintir orang.

Di tengah pusaran itu, masyarakat lokal berdiri di tepian rencana besar ini.

Sebagian dari mereka mungkin membayangkan peluang ekonomi: pekerjaan baru, harga tanah yang melonjak, atau kesempatan untuk ikut menikmati remah-remah dari meja makan pembangunan.

Namun, yang lain mulai menghitung kerugian: lahan tambak yang tergerus, ruang hidup yang hilang, dan laut yang tak lagi ramah.

Ancaman yang Tak Terlihat

Seperti banyak cerita pembangunan di negeri ini, konflik tak selalu datang dalam rupa demonstrasi atau perlawanan terbuka.

Ia sering kali hadir dalam diam—dalam tanah-tanah yang tiba-tiba berpindah tangan, perahu-perahu nelayan yang tak lagi bisa bersandar, atau anak-anak yang kehilangan ruang bermain selain di trotoar jalan raya.

Untia adalah kawasan pesisir yang rapuh. Sekali ekosistemnya terganggu, dampaknya menjalar jauh dan lama.

Tapi di ruang-ruang rapat, semua itu hanya terdengar sebagai angka di layar presentasi, statistik yang mudah dilupakan.

Ekosistem pesisir seperti mangrove, tambak tradisional, dan zona tangkapan nelayan adalah benteng terakhir yang justru rentan dikorbankan atas nama pembangunan.

Padahal, stadion ini bisa menjadi ruang bersama. Tempat di mana anak-anak Untia berlari di lintasan atletik, nelayan tetap pulang membawa ikan, dan warga punya ruang untuk sekadar merayakan hidup.

Lebih dari itu, stadion ini bisa menjadi rumah bagi PSM Makassar—klub yang bukan cuma soal bola, tapi identitas dan kebanggaan kota.

Tempat di mana ribuan orang datang, bukan hanya menonton, tapi merasa menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar dari diri mereka sendiri.

Namun semua itu hanya mungkin jika sejak awal, suara warga yang tinggal di sana tidak dibungkam oleh deru mesin dan bisik-bisik investasi.

Membangun Dialog, Bukan Hanya Beton

Yang dibutuhkan Untia bukan sekadar stadion, melainkan keberanian pemerintah untuk melakukan satu hal penting yang jarang terjadi: mendengar.

Melibatkan warga sejak rencana itu masih berupa sketsa. Membuka ruang dialog yang sungguh-sungguh, bukan sekadar formalitas di hotel-hotel berbintang yang berakhir jadi berita satu hari.

Kajian lingkungan hidup harus dilakukan dengan serius, bukan hanya untuk menggugurkan syarat administratif.

Tapi benar-benar untuk memastikan bahwa yang dibangun tidak lebih besar dari yang dikorbankan.

Kewajiban ini termasuk transparansi soal anggaran, kepemilikan lahan, dan siapa yang akan diuntungkan. Semua itu adalah keharusan, bukan kemewahan.

Lebih jauh, dibutuhkan kolaborasi lintas batas: pemerintah, akademisi, aktivis lingkungan, pengusaha, dan masyarakat sipil duduk bersama. Bukan untuk saling mengalahkan, tapi mencari titik temu.

Di situlah, mungkin, mimpi tentang stadion yang adil dan berkelanjutan bisa benar-benar lahir.

Pemerintah Kota Makassar harus belajar dari banyak kasus serupa di berbagai daerah.

Mandalika di NTB, misalnya, meski menyisakan persoalan, setidaknya mulai membuka ruang untuk pelibatan masyarakat adat dan kajian lingkungan yang lebih komprehensif.

Jika tidak, bukan tidak mungkin Untia akan menyusul jejak proyek-proyek raksasa lain yang hari ini lebih banyak meninggalkan luka ketimbang kebanggaan.

Warisan yang Kita Pilih

Kita punya cukup banyak cerita sebagai pelajaran. Dari Stadion Gelora Bung Karno yang dibangun dengan penggusuran paksa, hingga proyek-proyek modern lain yang sering kali mengabaikan aspek sosial dan ekologis.

Setiap pembangunan besar selalu menyisakan jejak: apakah ia akan dikenang sebagai monumen megah yang menyisakan luka, atau sebagai ruang yang mempertemukan semua orang dalam kebersamaan?

Untia bisa memilih jalannya sendiri. Bukan jalan pintas yang cepat, tapi jalan panjang yang mungkin melelahkan, tapi menjanjikan.

Sebab pada akhirnya, stadion bukan soal beton dan besi, tapi soal ruang hidup manusia.

Tentang bagaimana sebuah kota menata masa depannya tanpa harus mengorbankan masa lalu dan identitasnya sendiri.

Jika kelak stadion berdiri, sejarah akan mencatatnya. Pertanyaannya hanya satu: apakah ia akan dikenang sebagai lambang ketimpangan dan perampasan ruang hidup?

Atau sebagai bukti bahwa kota ini mampu berdiri tegak, membangun tanpa meninggalkan siapa pun?

Makassar punya kesempatan langka untuk menjawabnya dengan benar. Dan di Untia, masa depan itu sedang ditulis. Kita semua akan menjadi saksinya.

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Update Jadwal & Skor
Grup B - Matchday 1
Sabtu, 13 Juni 2026 | 02:00 WIB
Canada
Kanada
1 - 1
Bosnia
Bosnia
Grup D - Matchday 1
Sabtu, 13 Juni 2026 | 08:00 WIB
United States
Amerika Serikat
4 - 1
Paraguay
Paraguay
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga
Memuat video…
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved