Syiar Ramadhan 2025
Muslim, Mukmin, Muttaqin, Mukhlisin Apa Bedanya?
Tingkatan-tingkatan beriman dalam Al-Qur'an ada empat, yakni muslim, mukmin, muttaqin, dan mukhlisin.
Oleh:
Ustaz Kamaruddin Mustamin
Dosen Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Alauddin Makassar
TRIBUN-TIMUR.COM - Tingkatan-tingkatan beriman dalam Al-Qur'an ada empat.
Ada istilah muslim, mukmin, muttaqin, dan mukhlisin.
Tentu istilah ini ada perbedaannya.
Misalnya dalam Al-Qur'an surah Ali Imran ayat 84.
'Qul amanna billahi wa ma unzila 'alaina wa ma unzila 'ala ibrahima wa isma'ila wa is-ḥaqa wa ya'qụba wal-asbaṭi wa ma utiya mụsa wa 'isa wan-nabiyyuna mir rabbihim la nufarriqu baina aḥadim min-hum wa nahnu lahu muslimun,
Dia mengaku muslim tetapi belum menjalankan ibadah sepenuhnya.
Hari ini puasa besok tidak, hari ini salat besok tidak salat.
Berarti masih berada tataran tingkat muslim.
Tingkatan yang kedua ada disebut dengan mukmin misalnya dalam Al-Qur'an surah Al Mukminun ayat 1 sampai 11.
Jadi orang mukmin ciri-cirinya yang pertama adalah salatnya khusyuk.
Bagaimana caranya salat khusyuk?
Menurut Al Ghazali khusyuk itu, kalau takbirnya sudah konsentrasi, ketika membaca Iyyaka na'budu wa iyyaka nasta'in, tahiyat, dan ketika dia salam.
Khusyuk ini memang butuh riyadah, butuh latihan tapi paling tidak yang membantu juga kita salat khusyuk itu adalah pertama kalau berwudu yang benar, jangan buru-buru.
Apalagi cuci kaki tidak basah semuanya.
Kalau tidak sah wudhunya jelas salatnya tidak sah.
Kedua pakaian yang kita pakai, sarungnya dipisahkan sarung tidur, bajunya jangan dipakai tidur dipakai juga pergi masjid.
Harus diperhatikan, ini adalah langkah-langkah untuk sampai ke salat khusyuk.
Ketiga ciri orang mukmin itu menjauhi perbuatan yang tidak berguna, yang tidak bermanfaat, yang tidak ada manfaatnya.
Berbicara yang tidak ada manfaatnya tidak usah kita ngomong.
Jangan sembarang cerita apalagi menyinggung perasaan orang.
Inilah juga fungsinya puasa melatih kita, jangan sampai berkata-kata yang tidak bermanfaat.
Berikutnya, ciri orang yang beriman adalah mengeluarkan zakat.
Ciri yang keempat, orang yang menjaga kemaluannya, menjaga harga dirinya.
Tingkatan ketiga muttaqin, ini juga disebutkan tujuannya puasa La'allakum tattaquun, supaya kita menjadi orang yang bertakwa.
Bagaimana ciri orang yang bertakwa, dalam Surah Ali Imran ayat 113-136, ada empat indikatornya.
Pertama adalah dermawan, mudah memberi.
Kalau kita memberi dan ada yang kita bisa berikan kepada orang, tidak apa-apa tapi ketika ada orang minta sumbangan dan pas-pasan lantas kita memberi ini luar biasa.
Kedua adalah menahan emosi.
Bulan Ramadan ini harus kita tahan emosi.
Ada seorang sahabat datang kepada Rasulullah minta nasihat.
"Ra Rasulullah nasihati saya' Kata Nabi 'La Taghdab'.
Besoknya datang lagi, kata Nabi 'La taghdab'.
Ketiga kalinya datang lagi 'Ya Rasulullah dinasihati saya'. Kata Nabi 'La taghdab'.
Karena yang datang ini kepada Nabi suka marah.
Ketiga adalah suka memaafkan.
Rasulullah ketika dilempari dahinya sampai berdarah sahabat Abu Bakar marah.
Justru Nabi mengatakan 'Allahummahdi qaumi fainnahum la ya'lamun'.
Jadi Nabi mengajarkan kita untuk memaafkan orang lain.
Keempat cirinya orang muttaqin itu adalah selalu berbuat baik.
Tingkatan keempat, mukhlisin.
Iblis ingin menggoda hamba-hamba Allah SWT.
Kata Allah 'tidak bisa kau bisa goda yaitu hambaku yang mukhlisin', karena dia ikhlas kepada Allah SWT.
(Tribun-Timur.com/Hasriyani Latif)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Ustaz-Kamaruddin-Mustamin-Syiar-Ramadhan-Tribun-Timur-Sabtu-2232025.jpg)