Sungai di Maros Bakal Dikeruk Usai Banjir Parah Bulan Lalu
Pemerintah Kabupaten Maros, Sulsel bakal mengeruk sejumlah sungai sebagai langkah untuk mengatasi banjir yang kerap terjadi, termasuk yang terparah
Penulis: Nurul Hidayah | Editor: Edi Sumardi
MAROS, TRIBUN-TIMUR.COM - Pemerintah Kabupaten Maros, Sulsel bakal mengeruk sejumlah sungai sebagai langkah untuk mengatasi banjir yang kerap terjadi, termasuk yang terparah pada Februari 2025 lalu.
Pengerukan sungai ini terakhir dilakukan tahun 13 tahun.
Hal ini terungkap dalam rapat koordinasi bersama Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pompengan Jeneberang dengan Anggota DPRD Provinsi Sulawesi Selatan, Andi Patarai Amir, Rabu (12/3/2025).
Kepala BBWS Pompengan Jeneberang, Suryadarma Hasyim, menjelaskan banjir di Maros disebabkan pendangkalan sungai akibat sedimentasi dan erosi lahan.
Hal ini mengurangi daya tampung sungai sehingga air mudah meluap meski hujan dengan intensitas sedang.
Sebagai solusi jangka pendek, BBWS akan meminjamkan alat berat kepada Pemkab Maros untuk mempercepat normalisasi sungai.
Sementara itu, pemerintah daerah akan bertanggung jawab atas biaya operasional alat tersebut.
“Kami akan memberikan bantuan pinjam pakai alat berat kepada Pemda untuk mempercepat proses normalisasi sungai,” ujar Suryadarma.
Sungai-sungai yang menjadi prioritas pengerukan di antaranya Sungai Maros sepanjang 60 km, Pammelakang Jene di Lau, Sungai Diccekang di Moncongloe, Sungai Batangase di Mandai, serta saluran pembuangan Sungai Buttatoa di Turikale.
Baca juga: 12 Kecamatan Terendam Banjir, Maros Berstatus Darurat Bencana
Selain langkah jangka pendek ini, Pemkab Maros juga merancang solusi jangka panjang dengan membangun Bendungan Bontosunggu di Desa Pucak, Kecamatan Tompobulu.
Bendungan ini diharapkan dapat mengurangi dampak banjir secara signifikan, meskipun hingga kini masih ada kendala dalam pembebasan lahan akibat penolakan warga setempat.
Wakil Bupati Maros, Muetazim Mansyur, menegaskan pihaknya telah menyiapkan lahan sebagai tempat pembuangan sedimentasi hasil pengerukan sungai.
“Dulu pernah ada rencana normalisasi sungai, tetapi terkendala masalah lahan. Kali ini, kami akan menyiapkan lokasi untuk menampung sedimentasi agar program ini bisa berjalan lancar,” tuturnya.(*)
| Talud di Bantaran Sungai Walanae Ambruk, BPBD Wajo: Wewenang BBWS Pompengan Jeneberang Perbaiki |
|
|---|
| 5 Kecamatan Terendam, 3.500 Warga Maros Terdampak Banjir |
|
|---|
| 8 Kecamatan di Maros Terendam Banjir |
|
|---|
| Hujan Deras Sepekan, Ruas Jalan Moncongloe–Makassar Terendam Banjir Setinggi 50 Cm |
|
|---|
| Sungai di Maros Dikeruk Setelah 13 Tahun, Chaidir Syam: BBWS Pompengan Jeneberang Sudah Mengizinkan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/banjir-maros-1-1232025.jpg)