Opini Rahmat Muhammad
Bulan Penuh Rahmat
Dalam hubungan sesama manusia diklaim pula bahwa bulan ini sangat Sosiologis sebagaimana pesan agama untuk memperkuat silaturrahmi melalui ibadah.
Namun, dipanggung belakang realitasnya bisa berbeda (paradoks) justru tidak melaksanakan ibadah apapun sehingga sering kehidupan dunia ini diibaratkan Panggung Sandiwara.
Selain itu, suasana ramadan juga memperlihatkan bagaimana masyarakat menggunakan simbol-simbol tertentu dalam interaksi sosial. Simbol berperan penting dalam membangun impresi yang ingin ditampilkan kepada orang lain.
Misalnya berbaju gamis, peci, sarung, kerudung/ jilbab, kemudian diunggah di media sosial tentang kegiatan ibadah yang menjadi bagian dari upaya menampilkan identitas religius seperti suasana di pesantren yang Islami dalam beraktivitas.
Termasuk saat Buka Puasa bersama adalah contoh lain dari ritual sosial yang menjadi sarana memperkuat hubungan dan membangun impresi positif.
Acara ini tidak hanya sekadar ajang untuk berbagi makanan, tetapi juga merupakan bagian dari strategi dramaturgis untuk memperlihatkan kesalehan sosial.
Ramadan juga menghadirkan bentuk kontrol sosial yang lebih ketat.
Dalam bulan ini, ada ekspektasi kolektif bahwa individu harus menjalankan ibadah dengan lebih serius.
Tekanan sosial ini membuat individu yang biasanya tidak terlalu aktif dalam kegiatan keagamaan merasa terdorong untuk menyesuaikan diri.
Fenomena yang sejalan dengan konsep Goffman tentang “pengelolaan kesan” (impression management), yaitu individu berusaha mempertahankan citra tertentu untuk menghindari sanksi sosial.
Kemampuan menahan diri dan berdasar untuk hal yang berpotensi berbuat dosa tentu jadi perhatian penting bukan sekadar mampu menahan untuk tidak makan dan minum.
Kesadaran religius ini untuk menghindari stigma negatif dari lingkungan sekitar.
Teori Goffman pun bisa digunakan untuk menjelaskan bahwa Ramadan bukan hanya sekadar Bulan Ibadah, tetapi juga ruang sosial di mana individu memainkan peran yang disesuaikan dengan norma dan ekspektasi masyarakat.
Fenomena seperti meningkatnya aktivitas keagamaan, simbolisme dalam interaksi sosial, serta mekanisme kontrol sosial menunjukkan bagaimana individu berupaya mengelola kesan yang mereka tampilkan di depan publik.
Bulan penuh rahmat ini tidak hanya menjadi momentum refleksi spiritual, tetapi juga momen untuk memahami bagaimana norma dan nilai sosial bekerja dalam membentuk perilaku masyarakat.
Dengan menyadari dinamika ini, kita dapat lebih jujur dalam menjalani ibadah, bukan sekadar demi citra sosial (pencitraan) tetapi sebagai wujud keimanan yang lebih autentik.
