Opini Rahmat Muhammad
Bulan Penuh Rahmat
Dalam hubungan sesama manusia diklaim pula bahwa bulan ini sangat Sosiologis sebagaimana pesan agama untuk memperkuat silaturrahmi melalui ibadah.
Oleh: Rahmat Muhammad
Ketua Program Studi Doktor Sosiologi Unhas
TRIBUN-TIMUR.COM - ALHAMDULILLAH sepekan ini euforia Bulan Suci Ramadan kembali disambut suka cita bukan hanya oleh Ummat Islam tapi Non Islam pun ikut bahagia sebagai indikator ucapan selamat antar satu dengan yang lain wujud rasa toleransi terasa hangat antar ummat beragama.
Dalam hubungan sesama manusia diklaim pula bahwa bulan ini sangat Sosiologis sebagaimana pesan agama untuk memperkuat silaturrahmi melalui ibadah sesuai tuntunan Islam.
Keistimewaan bulan ini bagi ummat Islam sehingga Bulan Ramadhan sering juga disebut Bulan Suci, Bulan Rahmat, Bulan Pengampunan, Bulan Ibadah juga Bulan al Qur’an disaat Nuzulul Qur’an yang ditandai dengan turunnya al Qur’an diterima langsung oleh Rasululullah Muhammad SAW di Gua Hira bahkan secara khusus diistimewakan 1 malam Lailatul Qadar yang lebih mulia dari seribu bulan.
Menarik memilih Bulan Rahmat dengan pertimbangan Sosiologis bahwa begitu banyak amalan yang bisa dilakukan sehingga bulan ini tidak hanya dalam makna religius, tetapi juga wujud dinamika sosial yang terjadi di tengah masyarakat.
Dalam bulan ini, kita menyaksikan perubahan sosial yang cukup signifikan, mulai dari meningkatnya kegiatan ibadah hingga perubahan dalam pola interaksi masyarakat.
Selama Ramadan, banyak dari masyarakat kita yang tiba-tiba mengalami peningkatan aktivitas keagamaan seperti salat berjamaah di masjid, berbagi takjil buka puasa, dan berbagai kegiatan sosial yang menunjukkan kepatuhan terhadap ajaran agama.
Semangat beribadah yang patut kita syukuri dan apresiasi akan kepedulian antar ummat untuk berbagi meskipun di sisi lain tidak sedikit juga yang sekedar ibadah hanya menggugurkan kewajiban dan meragukan apakah betul beribadah karena landasan keimanan atau hanya berusaha menampilkan citra diri sebagai muslim yang taat dan dermawan?
Bukan hak manusia untuk menilai karena ibadah itu urusan Allah dengan hamba_Nya siapa yang ikhlas dan bertaqwa.
Namun untuk memahami fenomena ini, perspektif Sosiologis dramaturgi dari Erving Goffman bisa digunakan dalam melihat kehidupan sosial masyarakat yang selalu diibaratkan sebagai sebuah panggung teater, dimana individu memainkan peran sesuai dengan ekspektasi sosial.
Goffman membagi dua kehidupan sosial yaitu bagian utama sebagai panggung depan (front stage), tempat di mana individu menampilkan diri sesuai dengan peran yang diharapkan oleh masyarakat.
Sedangkan panggung belakang (back stage) ketika individu bisa bersikap lebih leluasa tanpa tekanan norma sosial yang ketat.
Dinamika ini masih dalam batas kewajaran mengingat banyak dari masyarakat kita lebih menampilkan panggung depan yang tampak jelas dalam peningkatan aktivitas keagamaan.
Seperti shalat berjamaah di masjid dan berbagi makanan untuk berbuka puasa yang dimana aktivitas ini menunjukkan bahwa mereka melakukan itu karena kepatuhannya terhadap ajaran agama tetap berusaha menampilkan citra diri sebagai muslim yang taat dan dermawan agar sejalan dengan ekspektasi sosial masyarakat di Bulan Suci ini.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Rahmat-Muhammad-Januari-2025.jpg)