Catatan Bola
Tak Ada yang Abadi
Klub itu adalah Manchester City. Akhir Januari 2025 yang lalu, Paris Saint-Germain menumbangkan The Citizens 4-2 di ajang Liga Champions.
Netflix pernah menayangkan sebuah film dokumenter bertajuk Take the Ball, Pass the Ball, yang membahas tentang keindahan dan kompleksitas Pep Guardiola dan taktiknya.
Film itu dengan rinci bicara tentang Johan Cruyff, Pep, Messi, dan Barcelona.
Perspektif taktis Pep selalu didasarkan pada pemain yang cerdas dan permainan berbasis penguasaan bola.
Pep menciptakan kembali 'total football' untuk menjadikan Manchester City sebagai tim terbaik di dunia pada awal masa kepelatihannya di klub tersebut.
Namun, seusai takluk dari Real Madrid di Etihad Stadium dua minggu yang lalu, Guardiola mengakui bahwa masa terbaik tim asuhannya sudah lewat. Zaman keemasan Manchester City mulai meredup.
"Kami pernah luar biasa di masa lalu, tetapi sekarang tidak lagi,” lirih Pep berujar. Dengan nada pedih ia melanjutkan, "Tidak ada yang abadi."
Machester Biru yang kaya-raya, yang dulunya amat perkasa, namun sekarang sedang terpuruk. Dari segalanya menuju ke ketiadaan.
Dalam bukunya Mati, Bertahun yang Lalu, penulis dan doktor alumnus Universitas Monash – Australia, Soe Tjen Marching, menuliskan diksi: Ketiadaan adalah ada.
Karena bila ketiadaan adalah tiada, maka ia tak perlu lagi disebutkan, dikatakan, atau digambarkan. Benarkah The Citizens menuju ke ketiadaan? Sang Waktu akan menjawabnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Willy-Kumurur-1-7112023.jpg)