Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Indonesia Gelap

Saat sama, saya duduk santai di salah satu warkop sederhana. Di temani seorang teman baik, juga secangkir kopi, saya melumat buku ditulis Tom Nichols

Editor: Ari Maryadi
ISTIMEWA
ARMIN TOPUTIRI - Mantan anggota DPRD Sulsel Armin Mustamin Toputiri membaca buku dan minum kopi di warkop beberapa waktu lalu. Ia menulis opini Indonesia Gelap. 

Oleh: Armin Mustamin Toputiri
Anggota DPRD Sulsel periode 2009-2019

TRIBUN-TIMUR.COM -- Teriak riuh redam terbelam/ Dalam gelap gempita guruh/ Kilau kilat membelah gelap/ Lidah api menjulang tinggi.

*

Hari ini, seantero negeri -- tak kecuali di Kota Makassar -- berlangsung gelombang massa, unjuk rasa mahasiswa dan masyarakat sipil.

Saat sama, saya duduk santai di salah satu warkop sederhana. Di temani seorang teman baik, juga secangkir kopi, saya melumat buku ditulis guru besar Harvard Extension School, Tom Nichols. “Matinya Kepakaran” (The Death of Expertise), 2024.

Nichols, meski mengulas matinya empati para pakar dalam urusan sosial -- menyentuh substansi diperjuangkan pengunjuk rasa -- tapi saya memilih, sementara menutup. Saya beralih mengintip layar hape. 

Di seantero negeri, terlihat gelombang massa. Terlihat lidah api, kepulan asap membumbung. Faktanya, nyaris serupa dinukil penyair Pujangga Baru, Amir Hamzah dalam sajaknya “Hanya Satu”, (penggalannya saya kutip di awal catatan ini). 

*

“Indonesia gelap”. Frasa ini, jargon seragam disuarakan pengunjuk rasa di seantero negeri. Tapi sungguh, isi pesan frasa itu, tak saya mengerti. Saya, sama saja mantan menteri utama Jokowi, Opung Luhut. Di manakah di negeri ini, dilanda kegelapan yang memicu protes?

Ketakmengertian itu, saya tanyakan pada teman baik saya di warkop. Dijawabnya malah cengengesan. “Gelap, itu majaz. Metafora saja” ujarnya. Saya, tetap saja bingung. Panjang kali lebar, ia mengurai. Coba meyakinkan saya, kondisi Indonesia mutakhir. Sekurangnya, seperti ditakar oleh mereka yang bersuara, “Indonesia gelap”.

Amboi, diksi “gelap” itu, rupanya bukanlah antonim “terang”. Tak ada cahaya, sebersit sinar penerang. Gelap dimaksud, “gloomy”. Suram, KBBI di bidang kehidupan, menyebut suatu kondisi tak tentu arah, nasibnya di masa depan.

Itu dalihnya, tapi saya masih sangsi. Toh, di buku otobiografi; "Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat" (1965) ditulis Cindy Adams. Bung Karno bertutur; “Bangsa Indonesia di abad ke-19, merupakan zaman gelap. Sedangkan zaman sekarang, zaman terang-benderang, menaiknya pasang revolusi kemanusiaan”.

*

Nah loh, cobalah tutur Bung Karno itu, lamat dieja. Meski telah wafat 55 tahun lalu, tapi seolah ia tahu, kelak sekelompok anak bangsa, mengklaim “Indonesia Gelap”.

Gelap, suram Indonesia di mana? ”Cermatilah pidato Prabowo saat milad partainya, sekian hari lalu”, tegas teman saya. “Ndasmu...!”, ia meniru ujaran Prabowo kala berpidato. “Hidup Jokowi!”. Seru Prabowo di hadapan Jokowi itu, riuh disambut gegap gempita ratusan kader parpol didirikan dan dipimpinnya.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved