Opini
Urgensi Perilaku Warga dalam Memilah Sampah
Semoga kabupaten baru ini mengispirasi kita semua. Dengan langkah kecil tapi konsisten, akan memberi makna dan hasil yang lebih bagus.
Oleh: Djusdil Akrim dan Aidil Nur Ilahi
Doktor Lingkungan, Praktisi Industri dan KPS Teknik Lingkungan Universitas Bosowa / Mahasiswa Teknik Lingkungan Universitas Bosowa, Peserta Terbaik Pertama Forum Pemuda Perubahan (FPP) Yayasan Formasita NTT-Bali, 2025
TRIBUN-TIMUR.COM - “KOLABORASI UNTUK INDONESIA BERSIH”, begitu tema menyambut HPSN. Dari Pemerintah Kabupaten Tanah Bumbu (Tanbu).
Sebuah daerah hasil pemekaran Wilayah Kota Baru, di penghujung Selatan Pulau Kalimantan.
Semoga kabupaten baru ini mengispirasi kita semua. Dengan langkah kecil tapi konsisten, akan memberi makna dan hasil yang lebih bagus.
Sebagai warga negara yang baik, tentu mengharapkan aksi nyata berkelanjutan. Tidak hanya sebatas kegiatan peringatan semata yang menjadi agenda tahunan.
Namun problematika sampah dibutuhkan solusi yang tuntas.
Menarik menyimak pernyatan Dr Eng. Nani Anggraini, Dosen Teknik Lingkungan Unibos yang menjadi salah seorang Peneliti di Kampus Universiiity of Kitakyushu, Jepang.
Bahwa “Perilaku memilah menjadi salah satu aktifitas keseharian warga di Negeri Matahari Terbit”.
Sedangkan “Perilaku mengais sampah, maaf justeru bagian profesi segelintir warga di Negeri Zamrud Khatulistiwa, Gemah Ripah Loh Jinawi”. (Anggrain dan Akrimi, 2023)
Program Ekonomi Sirkular idealnya menjadi sebuah strategi yang jitu.
Bila dilakukan secara massif pada semua kota di Indonesia. Sebagai pilot project pemerintah dan harus dievaluasi secara terukur bukan sekedar seremonial Penghargaan Adipura.
Dimana setelah selesai perlombaan sampah kembali berserakan seperti sediakala. Karena memang motivasinya untuk pencitraan semata. Semangatnya pun tidak membumi sebagai sebuah kesadaran kolektif..
Padahal memilah sampah bukan suatu hal yang sulit untuk dilakukan. Bukan aktifitas yang membutuhkan skill khusus.
Dibutuhkan hanya kesadaran warga (awareness) untuk melakukan pemilahan sampah. Memang pemerintah mesti hadir menyiapkan infra struktur yang sesuai kebutuhan di lapangan. Karena meskipun warga sudah melakukan pemilahan tapi di TPS (Tempat Penampungan Sementara).
Armada yang menjemput sampah tersebut tidak berbeda dan tidak terjadwal maka potensi bercampur selalu ada.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Djusdil-Akrim-54.jpg)