Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini Andi Yahyatullah Muzakkir

Wawancara dengan Mulyono, Ada Apa?

Sungguh keseniaan adalah ekspresi murni kemanusiaan. Kebebasan ekspresi dikekang, kesenian juga dikangkangi rezim?

Editor: Sudirman
Ist
OPINI - Andi Yahyatullah Muzakkir, Founder Anak Makassar Voice. Andi Yahyatullah Muzakkir penulis opini Tribun Timur. 

Aliran ini tentu bisa kita namai sebagai “realisme sosial.” Di mana suatu karya cipta berorientasi pada ekspresi fenomena sosial yang didalamnya memuat ketakadilan, kesewenang-wenangan, penindasan, perampasan hak-hak dan menyuarakan kebenaran.

Pelarangan pementasan teater bertajuk “Wawancara Dengan Mulyono” sebagai tanda bahwa hari ini para elite mencoba menggunakan gaya orde baru atau bisa kita katakan pemberangusan oposisi, termasuk dengan mengekang karya cipta para seniman, melalui antek-antek kampus.

Dikatakan pembelaan oleh Rektor Institut Seni Budaya Bandung “bahwa pelarangan pementasan ini tidak lain sebab penciptaan karya harus dijauhkan dari unsur politik.”

Tentu ini sangat kontras sebab kita pahami bahwa kesenian sendiri adalah ekspresi kebebasan, keresahan kemanusiaan pada umumnya.

Secara tidak langsung ini mengukuhkan bahwa Institut Seni Budaya Bandung sedang tidak independen dalam penyelelenggaraan akademik dan pendidikan, melainkan berada dibawah kekangan dan bayang-bayang rezim Mulyono.

Tentu, hal ini harus kita tolak sekaligus mengecam tindakan ini secara keras. Jangan sampai ini menjadi semacam salah satu penghambat kesenian dan cipta karya seni kita pada masa mendatang. Sebab, ada suasana rasa takut, suasana kekangan yang coba diciptakan.

“Wawancara Dengan Mulyono” memang erat kaitannya dengan Jokowi, kita tahu bersama bahwa nama ini sendiri adalah nama kecil Jokowi.

Tapi, sepanjang pemerintahan Jokowi juga banyak mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang notabenenya merugikan rakyat. 

Seperti misalnya perizinan “kasus pagar laut” yang terjadi di eranya. Ini juga menandakan bahwa kebijakan Jokowi sendiri banyak menguntungkan oligarki dan tidak memihak pada rakyat.

Alhasil banyak komunitas, kelompok dan organisasi yang resah, di ekspresikan dalam bentuk demonstrasi dan penciptaan karya.

Saya pikir, teater bertajuk “Wawancara Dengan Mulyono” ini adalah naskah teater yang harus kita kawal agar tetap berjalan. Keresahan, kritikan, ketakpuasan pada rezim harus disuarakan. Ini juga wujud kecintaan pada bangsa dan tanah air Indonesia.

Apakah Rektor Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung juga bagian antek-antek dari Mulyono?

Itu hal lain, namun kebebasan berekspresi, penciptaan karya seni harus terus dikawal, agar tak terjadi lagi pelarangan-pelarangan seperti ini.

Sumber: Tribun Timur
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved