Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Imlek 2025

Makna Penganan Xin Cia dan Nian Gau

Nenek buyut penulis bergelar Petta Bondeng. Karenanya disaat kecil penulis juga diberi gelar dalam keluarga sebagai Baba Baco.

Editor: AS Kambie
dok.tribun
Moeh David Aritanto, Budayawan Tionghoa 

Oleh: Moeh David Aritanto Budayawan Tionghoa/Seniman Sulsel

TRIBUN-TIMUR.COM - Imlek sudah dirayakan sebulan sebelum memasuki Sin Cia atau awal bulan baru atau santer tersebut di NKRI dalam bahasa suku Hokkian tahun baru Imlek. 

Dalam bahasa mandarinnya tersebut Xin Nian (tahun baru).

Biasanya tanggal 21 atau tanggal 22 Desember tiap tahun. 

Maka pada tanggal tersebut, warga Tionghoa di seluruh dunia mengenalnya sebagai hari makan onde onde. 

Atau lebih umum di tanah Jawa dikenal sebagai ronde wedang.  

Penganan onde onde adalah penganan musim dingin di daratan tirai bambu Tiongkok kuno. 

Karenanya kuah dari onde onde ini selalu dicampur jahe untuk hangatkan badan di musim dingin. 

Suku Hokkian sendiri kebanyakan membuatnya dengan memakai dua warna, merah dan putih. 

Yang menandakan bahwa kehidupan ini harus berlangsung secara seimbang sesuai pengetahuan di dalam mitologi feng shui.

Sementara suku lainnya di Tiongkok ada juga yang membuatnya berwarna warni sebagai simbol bahwa kehidupan ini penuh warna warni. 

Perantau Tiongkok sudah ada ribuan tahun silam di tanah Nusantara. 

Mereka telah kawin mawin dengan keluarga dari ketiga kerajaan yang ada di Sulawesi Selatan. 

Maka para keturunannya yang telah berasimilasi dan bersinergi mengembangkan berbagai kuliner termasuk onde onde yang tersebut omba omba dan di daerah Jawa dikenal sebagai ronde wedang.

Dari keturunan Tionghoa blasteran bercampur darah Makassar dan Bugis ini, lahirlah filosifi onde onde omba omba. 

Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Berita Populer

Waste-to-Energy

 

Waste-to-Energy

 
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved