Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini Mubha Kahar Muang

Notre Dame de Paris

Bersama dengan karya agung Hugo lainnya, Les Miserables, Notre Dame de Paris dianggap sebagai bukti kebesaran penyair Perancis tersebut. 

Editor: AS Kambie
dok.tribun
Mubha Kahar Muang, Anggota FKP DPR RI 1987-1992-1997-1998 

Quasimodo diasuh sejak bayi oleh seorang pendeta Katedral Notre Dame bernama Claude Frollo. Setelah besar, Quasimodo diberi tugas membunyikan lonceng gereja Notre Dame. Tugas yang membuat lelaki bermata satu itu perlahan-lahan menjadi tuli dan bisu.

 La Esmeralda sang gadis gypsy, ke mana-mana selalu ditemani oleh seekor kambing putih bernama Djali. Ia seorang gadis yang amat menarik perhatian. Pendeta Claude Frollo jatuh cinta kepadanya dan tampaknya mau melakukan apa saja untuk dapat merebut hatinya. 

Demikian juga dengan si bungkuk Quasimodo. Dengan caranya sendiri ia hanya bisa mendamba La Esmeralda. 

Pada saat yang sama La Esmeralda jatuh cinta kepada seorang kapten bernama Phoebus tetapi tidak memperoleh respon.

Sampai kemudian gadis ini bersaksi untuk menyelamatkan seorang penyair bernama Pierre Gringoire dari hukuman gantung, yang juga mendamba cinta La Esmeralda.

Kisah ini  berpuncak ketika Esmeralda akhirnya juga dituduh melakukan pembunuhan.

 Victor Hugo yang lahir sebagai Victor Marie Hugo pada 26 Februari 1802, melalui novel ini, oleh para kritikus dipandang sebagai puncak dari aliran romantisme dalam sastra barat. 

Bersama dengan karya agung Hugo lainnya, Les Miserables, Notre Dame de Paris dianggap sebagai bukti kebesaran penyair Perancis tersebut. 

Bahkan ada yang menyebutnya penyair terbesar dunia setelah Shakespeare.

Kisah Si Bungkuk dan La Esmeralda membuktikan  kebesaran Hugo.  Di puncak cerita, ketika La Esmeralda siap digantung, Si Bungkuk datang  berusaha menyelamatkannya. Sebuah tindakan penyelamatan yang gagal. 

Karena meski Si Bungkuk berhasil membawa Esmeralda hingga ke puncak menara Katedral Notre Dame, Esmeralda menolak penyelamatan itu.

Gadis itu juga menolak bantuan Pendeta Claude Frollo. Ia akhirnya dieksekusi.

Dalam lukisan 200.000 kata, novel ini menjadi saksi kisah tragis manusia yang berpusar pada kisah cinta, pengorbanan, kesia-siaan dan kepahlawanan yang bersatu padu.

Suatu saat ketika seorang peneliti bertanya siapa sesungguhnya tokoh utama dalam novel ini, apakah La Esmeralda atau Si Bungkuk Quasimodo?

Sang penyair menjawab: Katedral Notre Dame de Paris. 

Itulah keagungan Paris. Arsitektur, sejarah, sastra, sains dan manusianya, semua menginspirasi hingga lahir karya-karya budaya yang agung.

Cerminan sebuah reproduksi kultural yang terus terjadi menandai eksistensi sebuah kota. 

 (*)

Halaman 4/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved