Opini
Kebijakan Pekerja Perempuan di Sektor Kesehatan Pasca-Pandemi
Di tengah ketegangan dan tantangan yang dihadapi, pekerja perempuan di sektor kesehatan muncul sebagai pahlawan yang tak terduga.
Kebijakan Pekerja Perempuan di Sektor Kesehatan Pasca-Pandemi
Dhiah Qanitah Aulia R
Universitas Bosowa
TRIBUN-TIMUR.COM - PANDEMI COVID-19 telah membawa perubahan mendalam dalam banyak aspek kehidupan,
terutama dalam sektor kesehatan.
Di tengah ketegangan dan tantangan yang dihadapi, pekerja perempuan di sektor kesehatan muncul sebagai pahlawan yang tak terduga.
Keterlibatan mereka tidak hanya menyelamatkan nyawa, tetapi juga menyoroti isu ketidaksetaraan gender yang telah lama ada.
Dalam konteks ekonomi politik global, kita perlu memahami dampak yang dialami oleh pekerja perempuan di sektor ini pasca-pandemi dan apa yang bisa dilakukan untuk menciptakan masa depan yang lebih adil.
Selama pandemi, data menunjukkan bahwa hampir 70 persen tenaga kesehatan adalah perempuan.
Mereka berjuang di garis depan, berhadapan langsung dengan risiko infeksi, jam kerja yang panjang, dan tekanan emosional yang luar biasa.
Namun, meski kontribusi mereka sangat signifikan, banyak pekerja perempuan di sektor kesehatan yang mengalami tantangan berat, mulai dari kurangnya dukungan hingga pengabaian dalam pengambilan keputusan.
Salah satu dampak paling mencolok dari pandemi adalah meningkatnya beban kerja.
Banyak pekerja kesehatan perempuan terpaksa mengambil jam kerja tambahan tanpa imbalan yang setimpal.
Mereka sering kali harus menyeimbangkan pekerjaan dengan tanggung jawab rumah tangga, yang semakin berat di masa krisis. Hal ini tidak hanya mengganggu kesejahteraan fisik dan mental mereka, tetapi juga mengurangi efisiensi dan produktivitas.
Dalam banyak kasus, pekerja perempuan juga menghadapi stigma dan diskriminasi.
Mereka sering kali dianggap kurang mampu untuk memegang posisi kepemimpinan, meskipun banyak dari mereka memiliki kualifikasi dan pengalaman yang memadai.
Ketidakadilan ini memperburuk ketidaksetaraan gender yang ada di sektor kesehatan.
Menurut laporan dari berbagai organisasi internasional, peningkatan keterwakilan perempuan dalam posisi kepemimpinan dapat membawa perubahan positif dalam kebijakan yang lebih inklusif dan responsif terhadap kebutuhan tenaga kerja.
Pentingnya suara perempuan dalam pengambilan keputusan tidak dapat diabaikan.
Dalam banyak negara, kebijakan kesehatan yang diambil sering kali didominasi oleh perspektif laki-laki, yang mengabaikan pengalaman dan kebutuhan pekerja perempuan.
Tanpa adanya representasi yang memadai, kebijakan yang dihasilkan cenderung tidak mempertimbangkan dampak gender, yang pada gilirannya dapat memperparah ketidaksetaraan yang ada.
Penting untuk menciptakan kebijakan yang mendukung kesejahteraan pekerja perempuan di sektor kesehatan.
Salah satu langkah kritis adalah memastikan akses yang lebih baik terhadap layanan kesehatan dan perlindungan sosial.
Banyak pekerja perempuan, terutama di negara berkembang, tidak memiliki akses yang memadai terhadap jaminan kesehatan dan perlindungan kerja.
Negara-negara harus berinvestasi dalam sistem kesehatan yang lebih kuat dan memberikan dukungan yang diperlukan untuk memastikan pekerja kesehatan perempuan dapat bekerja dalam kondisi yang aman dan sehat.
Selain itu, pendidikan dan pelatihan harus menjadi prioritas.
Investasi dalam pendidikan kedokteran dan pelatihan khusus bagi perempuan tidak hanya akan meningkatkan keterampilan mereka, tetapi juga membuka lebih banyak peluang untuk peran kepemimpinan.
Ketika lebih banyak perempuan terlibat dalam pengambilan keputusan, kita akan melihat kebijakan yang lebih inklusif, yang dapat mengurangi kesenjangan gender di sektor kesehatan.
Krisis kesehatan global ini juga menunjukkan pentingnya kolaborasi internasional. Negara- negara harus bekerja sama untuk menciptakan standar global yang melindungi dan memberdayakan pekerja kesehatan perempuan.
Organisasi internasional, seperti WHO dan PBB, harus mengambil peran aktif dalam mempromosikan kesetaraan gender dan
mendukung inisiatif yang berfokus pada pemberdayaan perempuan di sektor kesehatan.
Dampak psikologis dari pandemi juga sangat signifikan.
Banyak pekerja perempuan mengalami stres dan kecemasan yang meningkat akibat beban kerja yang berat dan kurangnya dukungan.
Dalam konteks pemulihan ekonomi, perhatian terhadap kesehatan mental pekerja perempuan harus menjadi prioritas.
Tanpa dukungan yang memadai, kita berisiko kehilangan banyak tenaga terampil yang sangat dibutuhkan dalam memulihkan
sistem kesehatan global.
Dalam kesimpulan, dampak pandemi terhadap pekerja perempuan di sektor kesehatan adalah masalah yang kompleks.
Dalam konteks ekonomi politik global, kita harus berkomitmen untuk membangun sistem yang lebih adil dan inklusif.
Ini mencakup pengakuan terhadap kontribusi pekerja perempuan, peningkatan akses ke perlindungan dan dukungan, serta
partisipasi aktif mereka dalam pengambilan keputusan.
Hanya dengan cara ini kita dapat memastikan bahwa pemulihan ekonomi tidak hanya cepat, tetapi juga berkelanjutan dan adil bagi semua.
Pekerja kesehatan perempuan adalah pilar utama dalam menjaga kesehatan masyarakat, dan sudah saatnya kita mengakui peran mereka secara penuh.
Mari kita bersatu untuk mendukung mereka, memastikan bahwa suara mereka didengar dan dihargai dalam proses pemulihan ini.
Keberhasilan pemulihan global tidak hanya diukur dari angka pertumbuhan ekonomi, tetapi juga dari sejauh mana kita dapat menciptakan lingkungan yang lebih aman dan adil bagi pekerja perempuan di sektor kesehatan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Dhiah-Qanitah-Aulia-R.jpg)