Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Perpustakaan Ajaib

Adagium itu, suatu waktu saya temukan melintas di beranda salah satu media on-line. Dikemukakan Russell T Davis, penulis skenario dan produser sinetro

Editor: Ari Maryadi
Opini
Armin Mustamin Toputiri Anggota DPRD Sulsel Periode 2009-2019 

Satu sahabat saya, bergumam terbalik. Patut diduga, perpustakaan universitas itu, tak ramai pengunjung. Mengingatkan saya pada adagium -- kelak menginspirasi IAIN dialih UIN -- diulas alumnus IAIN Ciputat Cak Nur, dulu di wisma HMI. "Jika ingin belajar ajaran Islam, pergilah ke Arab. Jika ingin belajar tentang Islam, pergilah ke Barat".

Cak Nur, sepulang belajar di Chicago USA, ulang mengingatkan kita, sesungguhnya soal metodologi belajar mengajar. Antara fungsi satu sisi, azasi di sisi lain. Di Arab, Universitas mengajari fungsi sebilah pisau, misalnya. Di Barat sebaliknya, universitas justru mengajari azasi sebuah pisau. Soal cara memfungsikan, silahkan riset dan cari di perpustakaan. 

Konon, itulah dalih kenapa perpustakaan di Barat, ramai pengunjung. Di Barat kata Cak Nur, semua universitas mengedepankan penalaran deduktif. Melakukan riset untuk memukan tesis dan teori terbaru. Hasilnya, ada di rak perpustakaan. Para perisetnya, itulah yang diganjar -- jabatan akademik -- gelar Guru Besar. 

Indonesia -- dominan mazhabnya berkiblat ke Arab -- sebaliknya, bernalar induktif. Semata, berposisi penerjemah hasil-hasil riset. Tentu bukan lagi, pada azasinya, tapi cara pem-fungsian-nya. Dan Azyumardi Azra, Rektor IAIN Ciputat kala itu, tak suka "pembeoan" itu. Jadi alasan baginya, getol berjuang mengalih IAIN menjadi UIN.

**

Kembali melanjutkan bacaan novel "The Magic Library", yang tak kuat saya lumat habis saat malam jelang tahun baru 2025, adagium Russell -- seperti saya kutip di awal catatan ini -- tetap saja menguntit di benak saya. Bahwa perpustakan adalah gudang, berisi senjata terhebat di dunia.

Tak kecuali, gayung bersambut bagi sosok intelektual dan novelis Jostein Gaarder. Pun terinspirasi menulis novel dengan memilih plot, alur kisah pada perpustakaan sebagai arena membongkar rahasia dan misteri. Sebagaimana judulnya, "The Magic Library". Sebuah Perpustakaan Ajaib.

Lebih dramatis lagi, ketika Shelby Foote, sejarawan dan jurnalis Amerika yang menulis tiga buku serial, "The Civil War: A Narrative" lantang mengklaim. "Universitas sesungguhnya kumpulan bangunan-bangunan, penanda jika di sana berdiri sebuah bangunan bernama perpustakaan". 

Nah, loh !!! Itu bukan kata saya ya, hi hi hi.

Makassar, 02 Januari 2025

Sumber: Tribun Timur
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved